Uswatun Hasanah
Memanggilmu dalam pilu adalah hal yang menyesakkan kalbu, mengingatmu dalam hati adalah hal yang menyiksakan diri, mengenangmu dalam arti adalah suatu hal yang seperti hati setengah mati ,dengan bahasa apa ku ungkapkan isi jiwa, dengan cara bagaimana ku utarakan rasa, sedang dalam keadaan nyata ibu benar-benar telah tiada.
Kemana harus ku luahkan segala penat dan lelah, kemana harus ku tumpahkan segala keluh kesah, kemana ku harus berbagi halusinasi yang selalu membuntuti, dimana ku harus simpan mimpi yang tertata rapi ini, hadirmu seperti pelangi memberi warna di pagi hari, saat terjaga dari senja dan saat pergi mengitari pagi, hadirmu seperti air mengalir kemana ia pergi disitulah ia membentuk wujud diri, hadirmu seperti alunan biola dimana ia bernada di situlah ada irama.
Ibu 9 bulanku bertapa, dalam perutmu yang penuh dengan beban dirasa, namun saat lahir ke dunia, ku berikan kau luka dan di sepanjang hidup ku tak pernah berhenti membuatmu meneteskan air mata.
Aku pernah membentakmu, karena begitu emosinya aku dan kau jawab “ begitukah jawaban anak yang bersuamikan ustad, apa kau tidak malu dengan jilbabmu “ rasa tertampar aku mendengar ucapanmu, dan sampai detik ini aku masih terngiang dengan kata-katamu “ suami Ustad dan jilbab” seakan menyeretku kedalam suatu tempat yang disana dipenuhi dengan binatang buas, ibu sendiri yang berharap semoga suamiku seorang ustad dan Allah ijabah doa ibu, seorang ustad versi ibu adalah sosok suami yang sempurna dimata ibu, iya bu dia sempurna secara agama tapi dia juga manusia biasa, ada saat kami berbeda rasa dan saat itulah aku merindukanmu.
Ibu lebih sayang dengan abang daripada aku,aku selalu dikucikan,aku tak dipedulikan,aku tak disayang dan aku selalu di nomerduakan,salahkah aku menuntut kasoh sayang,dosakah aku meminta belas kasihan dan tak bolehkan aku merasakan masa kecil bahagia dengan suka cita,ibu selalu mendahulukan abang,ibu selalu mementingkan abang,ibu selalu merajakan abang,abang dimanja,abanhlg dipuja,abang mendapatkan segalanya,sedang aku tidak,apakah aku anak tiri,apakah aku bukan anakmu,itu fikirku dahulu namun sekarang aku tersadar bahwa anak laki-laki milik ibunya..
Ibu,, Saatku kecil ku buat mu terkilir, menapaki kisah anak remaja menjadi dewasa , perjalanan itu menyisakan cerita kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya yang luar biasa dan disaat itu kuhanya mampu menjadi anakmu dengan sejuta keunikannya, dan saat beranjak menapaki usia setengah senja
Ku berikan duka dan ku biarkan ibu kecewa , maafkan aku belum bisa buatmu bangga, kasih sayangmu selalu ada, meski kau tak sempurna tapi kau berikan ku segalanya.
“ Tebus ya nanti jika kamu berharta “ ucapanmu sewaktu ku gadaikan tanah warisan (harta peninggalan mbah” untuk biaya kuliah, maafkan aku ibu, jangankan untuk ganti untuk sehari-hari saja aku masih mencari, maafkan aku ibu,,masih teringat sampai sekarang bahwa aku masih punya hutang, dan masih segar dalam ingatan sewaktu ibu memberiku cincin “ ini untuk anakmu jangan dijual, nanti kalau anakmu menikah berikan ke anaknya lagi “ , “ Perbanyaklah bersedekah karena dengan sedekah dapat mendatangkan berkah serta menjauhkan musibah “, “ jangan numpuk (koleksi )kain karena kain tidak bisa digadaikan, simpan duitnya untuk beli emas” .itu kata-katamu yang tersimpan dihati,,aku hanya mengasihani diri sendiri jangankan untuk beli emas terkadang untuk beli beras saja tidak ada, entah kesalahan apa yang telah ku lakukan kepadamu, entah dosa apa yg telah ku perbuat padamu,,kini langkahku tak menentu,berbagai cobaan dan ujian datang menghantamku,,tapi aku yakin engkau seorang ibu yang akan selalu menjaga, melindungi dan mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Ibu,, baru ku tersadar atas segala kekhilafan, baru ku tersadar atas segala kelalaian, baruku tersadar atas segala kesalahan yang pernah ku buat, maafkan anakmu yang tak sempat berucap maaf, maafkan anakmu yang selalu membuatmu menghela nafas, maafkan anakmu yang tidak bisa taat, mafkan anakmu yang selalu membuatmu meneteskan air mata, maafkan anakmu yang tidak pernah berhenti memberi luka, maafkan aku anakmu yang selalu menyisakan perih, maafkan aku anakmu tidak pernah bersyukur atas hadirmu.
Kau rela bawa beras sekarung untuk anakmu yang dipondok agar tidak kelaparan, panas-panas jalan kaki ibu menjengukku dipondok, mutar-mutar cari kampus karena ingin bertemu denganku, Allah maha baik kau dipertemukan dengan orang yang kenal denganku, sehingga bisa bertemu denganku, aku tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya kau tidak menemukanku, mungkin seharian kau yang keliling mencariku.
Tahun 2006 saat kami sama-sama tidak memiliki alat komonikasi, berbekal Bismillah kau berangkat naik taksi perjalanan dua jam kurang lebih dari kampung ke kampus, dan setiap hari ibu mengirimku dipondok dengan membawa makanan kesukaanku, bagaimana ku tidak bisa menangis ketika mengingat semua ini.
Terbuat dari apakah hatimu, kau tidak pernah membalas orang-orang yang menyakitimu, kau tidak pernah membalas orang-orang yang berbuat dholim padamu,kau selalu membantu orang yang butuh pertolonganmu, dan kau tidak pilih kasih jika mau membantu, bersedekah tidak pernah pandang bulu, ku masih ingat kau mengumpulkan duit 2 ribuan setiap kali berziarah dan kau bagi-bagikan kesemua orang yang berada dipintu masuk makam, betapa mulia hatimu kau tidak berpendidikan tapi menyekolahkanku agar ku bisa menjadi orang, kau tidak pernah memarahiku, membentakku, memukulku, kau begitu polos dan lugu, berharap kehidupanku lebih baik darimu katamu, dan aku hanya menangis mengingatmu, meski kau tak sekolah kau mengajarkanku alif, ba,ta dan tsa,meski kau tak sekolah kau antar dan jemput aku disekolah.
Masih ingat kau tersedu saat mendapatkan perlakuan kasar dari bapak,dan aku maju untuk membelamu, kau kumpulkan uang receh demi kami nak-anakmu, karena ketika bapak pergi sepeserpun bapak tidak menafkahimu “ hemat-hemat ya, bapak tidak punya uang dan bapak pergi lama “ ucapmu, meski bapak berlaku angkara murka, meski bapak jahat dan berbuat tidak adil padamu kau hanya diam dalam tangismu, kita bisa menikmati hidup serba kecukupan sampai akhirnya badai datang, dan ku tahu persis sakit hati ibu, rasa kecewa ibu namun ibu tetap bertahan dalam kesabaran sampai akhirnya Allah benar-benar merubah segala hal, kau sakit dan harus berbaring yang membuat bapak merubah pikiran merawatmu dengan penuh kasih sayang.
Ibu … air mata ini menetes saat terkenang akan wajahmu yang sudah tinggal kulit dan tulang, menahan rasa sakit diabet yang membuatmu harus kehilangan satu jari kakimu, tanganmu yang lembut mulai lemah,, ucapmu mulai lirih dan tatapanmu kosong seakan ingin berucap bahwa kebersamaan ini takkan lama, bahwa pertemuan ini tidak hanya sebatas di dunia, bahwa semua yang terjadi adalah kekuasaan Allah semata, bahwa waktu akan berlalu dengan sendirinya, bahwa yang bernyawa akan kembali kepada pemiliknya, bahwa dimana ada pertemuan disitu ada perpisahan, bahwa setiap diri harus menyiapkan bekal untuk di bawa menghadapnya, bahwa setiap waktu itu sangat berarti, jadi selagi masih ada nafas hendaknya berbakti dan bahwa tidak putus amal anak yang sholeh untuk kedua orang tuanya, beberapa waktu ku temani harimu sampai akhirnya engkau pergi meninggalkan aku, beberapa waktu ku temani harimu sampai akhirnya engkau berlalu, beberapa waktu ku temani harimu sampai akhirnya engkau terbujur kaku, beberapa waktu ku temani harimu sampai akhirnya engkau diam membisu, beberapa waktu ku temeni harimu seakan kembali ke masa kecil dulu, beberpa waktu ku temeni harimu menjadi seorang ibu.
Semesta menjadi saksi bahwa derita ini masih tersimpan disini , alampun membisu menyaksikan kalbu yang tengah membeku, engkau benar benar pergi saatku masih ingin engkau ada di sini bersamaku, engkau benar benar tiada saatku masih butuh tenaga untuk melanjutkan kehidupan yang fana, engkau benar benar telah kembali keharibaan Ilahi Robby, saatku benar benar lumpuh tak mampu menggerakkan kaki.
Kadang, diri ini merasa bersalah kepada ibu setelah sadar betapa banyak pengorbanan yang ibu lakukan, tapi tidak dibalas dengan cukup perhatian atau sikap yang baik. Seperti, pada saat anak sibuk sendiri dan lupa nanyain kabar ibu atau ngelakuin hal yang bikin ibu kecewa. Berdasarkan pada penelitian Putri et al. (2021) menunjukkan, rasa bersalah ini sering muncul karena anak sadar sudah kurang menghormati atau nggak memenuhi harapan ibu. Tapi, rasa bersalah ini sebenarnya bisa jadi jalan buat anak memperbaiki hubungan dan makin dekat sama ibu.
Semoga engkau lebih baik di sana, semoga engkau lebih tenang di sana, semoga engkau lebih leluasa bergerak di sana, semoga engkau lebih bahagia di sana tampa rasa sakit yang engkau derita, Wahai Allah sang pemilik kerajaan kepadamu aku meminta, ampunilah dosanya, kesalahanya, kekhilafanya, dosa-dosanya, lapangkan kuburnya, serta berikan tempat yang layak untuknya, aku masih disini sebagai anaknya, putri kecilnya, aku masih di sini merindukannya, aku masih disini mengharapkan suatu hari bertemu denganya, aku masih disini menungggu keajaiban engkau ridhoi dia, aku masih disini saat dilema datang menerpa hanyalah wajah ibu yang datang menyapa. Alfatihah untukmu ibu. Semoga Allah beriku kesempatan untukku bertemu, semoga Allah beriku kesempatan untukku berbakti kepadamu, semoga Allah beriku kesempatan untukku membalas budi baikmu, Alfatehah untukmu ibu.






