(Mbok Jun)
Suatu hari Siti Mariam ikut kakak iparnya mengunjungi keluarga yang telah lama tidak berjumpa. Pergi meninggalkan kampung halaman adalah pertama kali dialami Mariam. Gadis Makassar ini baru saja menyelesaikan sekolah SMU di kampungnya.
Tiba di Jawa Mariam merasa betah. Cuaca di Jawa lebih dingin dari kampungnya. Di sini juga banyak makanan yang membuatnya tak bisa berhenti merogoh kantong. Suatu pagi Mariam menemani kakak iparnya berbelanja di pasar. Jajanan pasar menggoda gadis ini.
“Bu, kue apa ini?” tanya Mariam. Mulutnya tak sabar memasukkan kue yang ditunjuk ke mulutnya.
“Iki setunggal?” jawab si penjual
“Oh, ya. Saya mau kue setunggal,” kata Mariam.
“Nggih,” sahut penjual sembari tersenyum.
Gadis ini terus berlalu menyusuri trotoar. Kembali Mariam melihat kue yang mirip dengan makanan di kampungnya. Mariam menyapa penjual kue yang dijual seorang ibu muda berkain batik.
“Bu, saya mau beli kue ini?” ucapa Mariam.
“Iki sewu, Mbak,”jawab si Ibu.
“Ya, Bu saya mau beli sewu,” pinta Mariam.
Pagi itu belanjaan Mariam sebagian telah dibungkus dan siap dinikmatinya bersama teh. Mariam menunggu kakak iparnya di parkiran. Kakak ipar pun muncul dengan menenteng kantong belanjaan yang berisi aneka sayur. Mereka siap meninggalkan pasar. Mariam menghidupkan motornya.
“Badhe tindak pundi … etan ato kulon, Mbak?
“Eh bukan pak, rumah saya bukan etan kulon.” Mariam menjawab spontan. Di kepala gadis ini, sebenarnya bingung mendengar ucapan tukang parkir.
Kakak ipar Mariam sontak tertawa mendengar jawaban Mariam.
“Maksudnya Mas itu, nanyain Maryam mau ke arah mana. Mau ke arah timur atau barat?” ujar kakak iparnya.
Maryam tersenyum geli, menyadari kekeliruannya.
Tiba di rumah, Maryam membuka kue yang dibelinya. Kakak ipar Maryam, tersenyum melihat Maryam.
“Kak, ini kue setunggalnya enak,” kata Maryam sambil melahap kue.
“Haha … bukan kue setunggal, Dek.” Kakak ipar tertawa mendengar Mariam menyebut kue serabi yang dibungkus daun pisang dengan kue setunggal.
“Itu kue serabi, namanya”
“Si penjual itu menanyakan sama kamu mau satu aja. Bukan nama kue,” tegas kakak ipar Maryam.
Keluarga yang ada di ruangan ikut tertawa mendengar Maryam. Maryam hanya bisa garuk-garuk kepala.
“Kak, ada lagi ini kue yang enak juga.” Maryam mengeluarkan kue dari kantong.
“Ini kue sewu, kan, Kak?” ucap Maryam terdengar minta dibenarkan.
“Haha ….“
Terdengar semua keluarga tertawa terbahak-bahak.
Kakak ipar Maryam menjelaskan kue yang dibelinya itu adalah semar mendem, bukan kue sewu.
“Sewu itu artinya seribu, Dek.”
“Dalam bahasa jawa seribu disebut sewu.” terang kakak ipar Maryam.
Maryam hanya tersenyum pasrah mendengar penjelasan kakak iparnya. Pagi itu, Maryam mendapat pelajaran tentang budaya lain yang berbeda dengan di kampungnya.
Editor: Juniawati
Tim Web:
Monallisa
Nanda Meilisa Fitri
Uray Ega Nanda Rianti
- Membangun Semangat Literasi pada Anak - 7 Agustus 2026
- Pengalaman Liburan - 20 Juli 2026
- Liburan Ke Jawa - 20 Juli 2026






