(Hesty Nurrahmi)
Rumah dalam pengertian bahasa, berarti bangunan sebagai tempat tinggal. Biasanya rumah berisikan keluarga inti: ayah, ibu dan anak. Biasa juga terdiri dari keluarga besar, ayah & ibu, anak, menantu, cucu, kadang terdapat kakek nenek, paman dan tante. Berapapun anggota keluarga dalam rumah, harapannya hidup dalam keadaan akur, damai dan harmonis supaya rumah terasa nyaman dan penghuni di dalamnya merasa betah.
Pendidikan atau kebiasaan yang baik idealnya bermula dari rumah, karena ayah dan ibu memberikan contoh dan teladan yang baik. Walaupun tidak diajarkan secara tekstual, tetapi perilaku ayah dan ibu tanpa disadari menjadi contoh bagi anak-anaknya. Makanya sangat penting pendidikan pertama dan utama dilakukan oleh keluarga pada usia anak 5 tahun pertama dalam kehidupan.
Pendidikan dalam keluarga kerapkali turun-temurun. Dari perilaku ayah dan ibu, atau orang lain yang mengasuh, berdampak pada perilaku anak. Seringkali copy paste dari perilaku ayah dan ibunya. Mulai dari cara bicara, cara bersikap, sampai perilaku yang tidak disadari, sehingga orang terdekat akan menyatakan “gayanya mirip ibunya”.
Dalam Islam, untuk merencanakan memiliki anak yang saleh, di mulai dari menentukan pilihan istri atau suami yang akan menjadi pasangan dalam pernikahan. Apabila ingin memperoleh keturunan yang saleh, maka pilihlah calon pasangan yang saleh (laki-laki maupun perempuan). Orang jawa menyatakan, kalau akan menikah, lihatlah bibit, bobot dan bebetnya dulu. Pernyataan ini bermakna pemilihan jodoh perlu dilihat asal muasal keturunannya, agar memperoleh keturunan yang baik pula.
Penentuan pasangan sudah ditentukan, pernikahan sudah dilaksanakan, maka merencanakan memiliki anak mulai dapat dilakukan. Mulai dari amalan dalam hubungan suami istri, memanjatkan doa-doa agar dikaruniai keturunan saleh , mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, halal dan toyyibah, berbuat baik kepada sesama makhluk.
Aktivitas selanjutnya, jika sudah dinyatakan hamil, maka perbanyak asupan bergizi, sehat, halal dan toyyibah. Perhatikan psikologis sang ibu. Buat ibu bahagia, senang, tanpa beban dan tekanan. Perhatian suami sangat penting dalam masa kehamilan. Perilaku ibu selama kehamilan mesti diperhatikan, idealnya selalu berakhlakul karimah, karena perilaku ibu selama hamil sudah menjadi contoh untuk si jabang bayi. Terpenting juga selama kehamilan aktivitas ibadah wajib tetap dilaksanakan dan ibadah/amalan sunah mesti diperbanyak.
Masa kelahiran adalah masa yang ditunggu oleh keluarga inti dan keluarga besar. Peristiwa menegangkan tapi menyenangkan. Pertaruhan antara hidup dan mati bagi seorang ibu jika akan melahirkan. Kelahiran dengan selamat dan sehat menjadi harapan keluarga. Usia 0 hari sampai berikutnya, adalah masa dimulainya pengasuhan, perawatan, dan pendidikan pada anak sebenarnya. Memasuki usia satu tahun, anak mulai mengenal dunia lewat orang terdekatnya, ayah dan ibu dan orang-orang yang berada di dalam rumah.
Bermula dari rumah, anak di ajarkan bicara, berbaring dengan posisi miring, tengkurap, merangkak, duduk, berjalan, berlari, menendang, memegang, hingga keterampilan motorik halus lainnya, diajarkan pada tahun pertama dan kedua kelahiran. Apabila anak sehat dan normal, maka perkembangan dan pertumbuhan fisiknya akan mengikuti standar perkembangan dan pertumbuhan menurut usianya.
Usia lima tahun pertama dapat dikatakan masa “ golden age” (usia emas), yang berarti pada usia lima tahun, perkembangan otak anak berkembang secara pesat. Hal ini bermakna, apapun informasi yang diperoleh, akan terekam dengan baik untuk disimpan dan menjadi “bank data” bagi anak-anak. Suatu saat akan dimunculkan pada waktunya. Selain itu, masa lima tahun pertama kelahiran, anak-anak juga rentan terhadap risiko seperti, mudah sakit, sulit makan, dan cidera ketika bermain. Hal ini perlu perhatian dan penjagaan khusus dari ayah & ibu atau pengasuh yang berada di rumah atau pun tempat penitipan anak.
Usia selanjutnya, anak sudah dapat dikatakan aman, tapi tetap perlu dalam penjagaan ayah & ibu dan keluarga terdekat terutama dalam penggunaan gadget. Upayakan sering didampingi, karena akses yang masuk dalam gadget sulit dipantau. Banyak kasus ketika pandemi, anak-anak kecanduan HP sehingga mesti dirujuk ke rumah sakit atau pemeriksaan psikologis. Pasca pandemi, beberapa sekolah mengeluarkan anak didiknya karena ketahuan hamil sebelum menikah. Masih banyak kasus lain yang mungkin tidak terdengar atau muncul di permukaan, tapi ada.
Anak-anak hendaknya diberikan kegiatan setelah aktivitas sekolah, baik di rumah maupun di luar rumah. Setidaknya anak selalu dalam pantauan orang tua maupun keluarga terdekat. Terkadang sulit dalam pembagian waktu, tapi hal ini penting demi perkembangan anak. Menjelang remaja dan dewasa yang mana masih dalam tanggung jawab ayah & ibu juga keluarga terdekat yang berada di rumah.
Terakhir dari tulisan ini, anak-anak adalah titipan dari Allah Swt, yang kita tunggu saat kelahiran sebagai buah cinta dari pernikahan yang halal. Perlu perencanaan dan program khusus yang dapat dimulai dari rumah bagi anak-anak kita, agar nanti mereka dapat menjadi tabungan pahala bagi orang tua di surga kelak. Wallahu a’lam bishawab. (Penulis merupakan Dosen Prodi Bimbingan dan Konseling Islam di IAIN Pontianak sekaligus Pembina Rumah Baca Hikmah Nur Beting).
Editor: Juniawati
Tim Website:
Monallisa
Nanda Meilisa Fitri
Pajar Wahyudi







