Menu

Mode Gelap
Pembina Rumah Baca Hikmah Nur Beting dan TBM Ar-Rahmah Sampaikan Ucapan Hari Kartini 2026 Call Article Paper Special For National Education Day! Kartini Masa Kini: Kolaborasi untuk Indonesia Mandiri dan Maju Wanita dan Profesi Akuntansi: Antara Peluang, Tantangan, dan Inovasi di Era Global Kartini Masa Depan : Inovasi, Kesetaraan, dan Kemandirian

Berita dan Artikel · 10 Agu 2026 10:53 WIB ·

Dari Pikiran, Rasa, hingga Naskah Siap Publikasi


 Dari Pikiran, Rasa, hingga Naskah Siap Publikasi Perbesar

Dari Pikiran, Rasa, hingga Naskah Siap Publikasi (Bagian Pertama)

Oleh

(Juniawati)

Menulis merupakan salah satu bentuk komunikasi yang dimiliki manusia. Kegiatan menulis di tengah gempuran informasi saat ini seolah menciptakan kebiasaan baru yang mendunia. Akses informasi menjadi sumber tulisan sekaligus diproduksi. Terjadi reproduksi pesan dalam jumlah besar, Era digital hari ini, semakin membuka ruang mendekatkan momen menulis menjadi relevan, karena banyak informasi yang diproduksi berdasarkan realita yang ada, ditambah informasi terkait dengan tema-tema tulisan sehingga menghasilkan beragam bacaan.

Hal ini juga menjadi tantangan literasi Indonesia sesungguhnya bersifat ganda. Di satu sisi, tingkat melek aksara orang dewasa Indonesia sudah tinggi, tetapi minat baca dan kebiasaan menulis produktif justru masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Data terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan tren yang mulai membaik: Tingkat kegemaran membaca (TGM) nasional pada 2024 tercatat di angka 72,44, dan pada tahun 2025 dan tahun 2026 masih diangka 54,80 (Badan Pusat Statistik, 2025). Sementara di Kalimantan Barat, tingkat gemar membaca pada tahun 2026 tercatat 59,85 (Badan Pusat Statistik, 2025).

Pada kesempatan ini, penulis hendak merangkum beberapa edisi terbitan pada website rumahbacahikmahnurbeting.or.id, yang sebagian besar berangkat dari pikiran sederhana, mengalir, dan ditulis dengan rasa serta hadir untuk tujuan berbagi cerita. Kali ini penulis bermaksud berbagi informasi terkait bagaimana menulis yang menyentuh hingga dipublikasikan.

Alhasil, informasi yang dicipta dan di distribusikan sebagian membawa efek kepada pembacam baik itu positif maupun negatif. Ada pula yang terkesan dan tidak mudah dilupakan dan sebaliknya mampu menembus jarak antara penulis dan pembaca dan yang mampu menembus jarak antara penulis dan pembaca sehingga membekas. Hal ini menjadi semakin penting untuk terus diasah. Mengapa demikian? Jawabannya kerap bukan pada panjangnya tulisan atau topik yang dibahas, melainkan pada kemampuan penulis menghadirkan informasi atau pesan yang menyentuh dan dapat membuat pembaca terlibat secara emosional. Bagaimana penulis mampu meramu informasi tidak sekadar menulis informasi tapi masuk pada ruang personal permbaca, sehingga tulisan yang dibaca tidak cukup diakhiri dalam dua alinea saja, melainkan membaca hingga tuntas dan kebutuhan pembaca terpenuhi.

Baca Juga  Ramadan: Bulan Kepedulian dan Persaudaraan

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menciptakan tulisan yang dihadirkan dari pikiran dan rasa lalu dituangkan dalam rangkaian kalimat. Kerangka berpikir yang dicetak langsung ke dalam lembar demi lembar hingga akhirnya selesai.

Menulis sebagai Bentuk Komunikasi dan Kebahagiaan

Menulis adalah bagian komunikasi yang dibagi untuk kebahagiaan penulis maupun pembaca. Karena pada dasarnya, menulis sebagai bentuk komunikasi, cara seseorang menyampaikan pikiran, perasaan, dan pengalaman kepada orang lain melalui kata. Namun, menulis juga bisa menjadi ruang kebahagiaan tersendiri: tempat seseorang melepaskan beban pikiran, merayakan kenangan indah, atau sekadar menikmati proses merangkai kata demi kata. Cara pandang ini penting untuk ditanamkan sejak awal, sebab banyak yang ingin menulis tetapi terhenti bukan karena kekurangan ide, melainkan karena terlalu cepat menuntut kesempurnaan dari diri sendiri atau sebaliknya, takut dengan kesalahan teknis. Namun, jika Kembali pada tujuan utama pesan atau informasi yang disampaikan untuk menyenangkan penulisnya sebagai media healing, maka menulis bukan menjadikan beban, melainkan suatu kesenangan, hobi, atau rekreasi pikiran atau yang bebas dan terbuka. Nah, jika demikian, hasil tulisan yang disajikan lebih mengalir.

Mengapa Tulisan Menyentuh?

Menulis bukan sekadar menyusun kalimat yang benar secara tata bahasa. Tulisan yang baik harus bertenaga, berkekuatan, bahkan “beracun” dalam artian mampu menghadirkan beragam emosi, membangun empati, dan meninggalkan kesan mendalam bagi penulis maupun pembacanya. Dari gagasan ini, proses menulis dapat dipetakan ke dalam lima level yang saling berjenjang:

Baca Juga  Sibuk tapi Skripsi Tetap Jalan Bahkan Dapat Mengembangkan Diri. Ini Tips Viral Ala Mahasiswa

Level 1 Menulis sebagai pikiran yang menguar. Pada level paling dasar, menulis berfungsi sebagai saluran untuk mengeluarkan “penyakit” batin, melepaskan emosi, merelakan peristiwa pahit, membagikan kenangan indah, atau sekadar menjadi bentuk self-reward dan healing bagi penulisnya.

Level 2 Menulis sebagai penghubung emosional. Pada tahap ini, tulisan mulai berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan penulis dan pembaca secara emosional, bukan lagi sekadar pelampiasan pribadi.

Level 3 Menulis sebagai kebiasaan tanpa batas. Menulis berkembang menjadi hobi yang dijalani sebagai kebiasaan (habit), dilakukan tanpa syarat dan tanpa batasan tertentu.

Level 4 Menulis sebagai upaya memproduksi pesan. Pada level ini, tujuan menulis bergeser ke arah bagaimana pesan dapat lebih mudah diingat, dipahami, dan dihayati oleh pembaca.

Level 5 Menulis sebagai karya berorientasi bisnis. Pada level tertinggi, menulis diarahkan untuk memproduksi karya yang berorientasi pada nilai komersial atau profesional.

Pada akhirnya, tujuan menulis kembali kepada penulis itu sendiri: mewujudkan pikiran dalam bentuk tulisan, baik untuk dikonsumsi sendiri maupun untuk dipublikasikan kepada khalayak luas.

Artikel ini disarikan dari materi “Teknik Menulis yang Menyentuh, Self Editing, dan Siap Publikasi” oleh Dr. Juniawati, M.Soc.Sc, 2 Agustus 2026 pada acara Writing For Healing (Salimah Provinsi Kalbar).

Facebook Comments Box
Monallisa
Latest posts by Monallisa (see all)
Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kekurangan Bukan Penghalang Kesuksesan

1 September 2026 - 09:43 WIB

Muda Bukan Sekadar Usia

1 September 2026 - 08:42 WIB

Muda Bukan Sekadar Usia

28 Agustus 2026 - 20:51 WIB

Membangun Semangat Literasi pada Anak

7 Agustus 2026 - 10:23 WIB

Pengalaman Liburan

20 Juli 2026 - 21:06 WIB

Liburan Ke Jawa

20 Juli 2026 - 20:51 WIB

Trending di Berita dan Artikel