(Santi Dewi)
Tulisan ini dilatar belakangi kondisi anak laki-laki dengan sikap yang berbeda ketika masih ada sosok Ayah di sampingnya dan setelah kepergian.
Sebagaimana kita ketahui, anak-anak sangat membutuhkan orang tua untuk membantu tumbuh kembang secara baik hingga sehat fisik maupun psikis, sehingga menjadi pribadi yang baik, kuat, pemberani, dan bijaksana. Namun, sosok Ayah yang dikagumi dan selalu dibanggakan hilang.
Pada dasarnya anak tidak bisa lepas dari kehadiran maupun kontrol dari orang tua. Meskipun anak telah dewasa, perhatian, kasih sayang, bimbingan, dan nasihat, masih sangat diperlukan. Hal ini akan berpengaruh pada kepribadiannya, akan membentuk anak menjadi kuat mental, dapat cerdas, tangguh dan lembut hatinya dan berakhlak mulia.
Akan tetapi apabila salah satu keberadaan dari orang tuanya tidak ada, maka apa yang dialami anak, apa yang akan dilakukannya? Beberapa sikap yang muncul dari hilangnya keberadaan orang tua dalam waktu yang lama, yaitu, anak akan sering main di luar. Terdapat perubahan tingkah laku yang tidak seperti biasanya, misalnya anak cenderung murung, pendiam, nakal, dan marah tanpa sebab. Semua itu tanpa disadari telah berubah. Hal ini karena kurang perhatian dari orang tua.
Di sini, pentingnya peran orang tua dalam hal tersebut. Berikut ini sebuah kisah singkat dari seorang anak yang tumbuh tanpa hadirnya orang tua dalam waktu yang lama. Kisah ini sebagai sarana belajar dengan mengenali lebih dekat sosok anak baik dalam keluarga maupun anak di sekitar kita.
Sebut saja Eza
Katakanlah Eza namanya. Anak laki-laki yang berusia 10 tahun. Tumbuh dalam keluarga yang sangat sederhana. Tinggal di rumah kontrakan bersama orang tua dan kedua saudaranya. Sosok anak ketiga atau biasaya disebut anak bungsu/terakhir dalam keluarga. Ayah bekerja sebagai buruh harian dan ibu sebagai ibu rumah tangga pada umumnya, juga berjualan kue untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Walaupun keluarganya sangat sederhana tapi kehidupan mereka selalu rukun dan selalu terlihat bahagia. Sebuah keluarga yang dikenal para tetangga sebagai keluarga yang baik dan harmonis. Tak pernah terdengar hal negatif. Kedua-dua saudaranya juga dikenal bersikap baik.
Di Mata Sang Guru
Pribadi anak didik tentu diketahui oleh guru di sekolah, demikian pula pada Eza. Guru mengenal siswa ini sebagai anak yang baik, sopan, rajin, dan cerdas. Siswa yang cukup disenangi para guru. Ditambah sosok anak yang selalu bersemangat ketika belajar dan aktif, baik dalam kegiatan belajar di kelas maupun belajar kelompok. Wajar, jika siswa ini menjadi bintang di kelasnya dengan menjadi juara kelas tiap semester. Hal ini semakin membuat guru bangga termasuk teman-temannya, ikut kagum.
Kepergian Sang Ayah
Suatu hari ayah Eza izin dengan keluargannya ingin mencari pekerjaan di tempat lain karena pekerjaan yang ia tekuni selama ini masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya karena pekerjaan yang ia tekuni selama ini tidak tetap kadang ada kadang juga tidak, apalagi anak-anaknya sudak makin tumbuh dewasa, tentu keperluan hidup makin meningkat. Belum lagi mengingat rumah yang mereka tempati masih rumah kontrakan. Itulah yang membuat keinginan ayahnya untuk mencari kerja yang lebih baik lagi semakin kuat , agar keluarganya bisa hidup seperti keluarga yang lain , yah paling tidak bisa punya rumah sendiri. Walaupun di dalam hatinya sangat berat meninggalkan keluarganya tapi apa boleh buat hal itu harus ia lakukan demi mewujudkan impiannya demi untuk keluarga yang ia sayangi. Dengan berat hati istri dan anak-anaknya melepaskan kepergian ayahnya.
Perubahan Berpengaruh pada Psikologi Anak
Pergantian waktu dari hari ke minggu, minggu ke bulan, dan seterusnya bagi Eza, sangat memilukan. Pergantian waktu telah membuat pribadinya sebagai anak yang semula bersikap baik, sopan, dan rajin, berubah menjadi pribadi yang sebaliknya. Mulai dari cara berpakaian yang kurang rapi, tidak menggunakan atribut sekolah, sering protes dan marah ketika disapa. Sikap yang tidak fokus saat belajar, sulit dinasihati. Meski kecerdasannya masih melekat pada si anak didik, tetapi perubahan sikap ini, tentunya karena penyebab. Guru sebagai orang tua kedua di sekolah, kemudian bertanya, apa yang telah terjadi pada anak didiknya?
Di sisi lain, dengan kondisi kehilangan yang bertahun-tahun ini, ditambah dengan pemandangan yang membuat anak iri melihat teman-temannya bermain bersama ayah mereka. Akibatnya, anak menjadi penyedih, jiwanya tumbuh benih-benih pemberontak, lantaran suasana menyenangkan itu tidak dimilikinya. Sosok Eza kehilangan percaya diri, penyendiri, tetapi sekaligus mampu menyembunyikan kesedihan dan luka dan tak seorangpun mengetahuinya .
Dalam hal ini kalau kita cermati dari kasus ini bahwa perubahan dari sikap anak ada hubungannya dengan faktor kehilangan orang tua (Ayah). Sesuatu dipendam dalam hati yang tidak bisa diutarakan kepada siapapun. Sosok yang sangat dirindukan, ingin dipeluk, menggenggam tangan dan merangkul bahunya sambil bercerita. Anak butuh teman bermain bersama dari orang tua. Namun, semua itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya melalui sikap yang ingin diperhatikan.
Hal lain yang menentukan perubahan pada anak adalah dari prilaku orang tua yang kurang perhatian, kurang komunikasi. Peran orang tua sangatlah penting bagi perkembangan emosi anak, karena itu akan membentuk kepribadian yang baik, mental yang kuat. Semua akan berjalan seperti yang diharapkan jika anak mendapat dukungan pola asuh yang baik dan perhatian dari kedua orang tua.
Anak akan lebih betah berada di rumah dibanding berada di luar. Akan tetapi jika dari salah satu orang tua tidak ada di sisinya, dan tidak ada yang memberi rasa aman untuk keluarganya, anak akan jadi pendiam. Terlebih pada anak laki-laki. Walaupun ada Ibu di sisinya tetapi anak butuh sosok Ayah di dekatnya. Oleh karena itu, Allah mengingatkan dalam ayat Alquran khusus tentang percakapan Ayah dan anaknya, pada surah Lukman: 16-19.
Cerita singkat tentang Eza di atas banyak pelajaran yang dapat diambil, terutama sebagai orang tua yang bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan materi akan tetapi kasih sayang, perhatian, komunikasi, dan dukungan sangat penting untuk penyemangat dan membentuk mentalnya. Kisah Eza ini hanya sebagian kecil dari kisah anak-anak yang menunggu kehadiran orang tua yang dicintainya. Tulisan ini setidaknya mengetuk hati orang tua di luar sana yang pergi berjuang mencari nafkah. Pulanglah, peluk dan dampingi tumbuh kembang anak dan bantulah ia agar dapat meraih sukses di masa depan.






