(Pajar Wahyudi)
Parenting merupakan topik yang sangat relevan dan mendesak untuk dibahas, terutama di era sekarang. Di Indonesia, pola asuh yang dipraktikkan oleh orang tua, masih banyak dipengaruhi oleh tradisi dan kebiasaan lama, yang kadang-kadang tidak mengikuti perkembangan zaman. Selain itu, kurangnya pemahaman pendidikan anak membuat banyak orang tua kesulitan memberikan pengasuhan yang ideal. Di sisi lain, pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga orang tua. Namun, peran orang tua dalam pendidikan sering kali dianggap remeh, dengan banyak yang beranggapan bahwa anak-anak hanya perlu diajar di sekolah. Padahal, lingkungan rumah adalah tempat utama bagi anak-anak untuk belajar nilai-nilai kehidupan, etika, dan karakter.
Salah satu video youtube Guru Gembul yang berjudul “Eps 769 | Gen Z Bakal Jadi orang tua gagal? Perhatikan, video penting buat manusia.” Berbagai keresahan mengenai masalah parenting di Indonesia diangkat dan dianalisis secara kritis. Video tersebut memberikan wawasan mendalam tentang pentingnya perubahan dalam cara orang tua mendidik dan berinteraksi dengan anak-anak mereka, dan memberikan solusi praktis untuk mengatasi masalah ini. Artikel ini mengetengahkan masalah yang dihadapi dalam parenting dan pendidikan anak di Indonesia, dengan solusi yang bisa diterapkan oleh orang tua.
Tayangan salah satu video youtube Guru Gembul yang berjudul “Eps 769 | Gen Z bakal Jadi orang tua gagal? Perhatikan, video penting buat manusia”, Guru Gembul mengungkapkan praktik parenting dan pendidikan anak di Indonesia. Banyak orang tua yang mengabaikan anak, menciptakan tradisi yang salah dalam pengasuhan, antara lain:
Pengabaian Emosional
Orang tua lebih memilih untuk membungkam anak ketika mereka bertanya, daripada menjawab pertanyaan mereka. Ini menciptakan kesenjangan komunikasi yang dapat menyebabkan anak merasa tidak diperhatikan. Menurut UNICEF, sekitar 90% perkembangan otak anak terjadi sebelum usia 5 tahun. Ini menunjukkan bahwa periode tersebut sangat krusial untuk pendidikan dan bimbingan.
Kekerasan dan Perundungan
Kasus-kasus perundungan anak banyak sekali dan terus-menerut berulang, misalkan dalam rumah tangga, ayah kepada anaknya ayah kepada bayinya ayah kepada istrinya. Sebuah penelitian yang dilakukan di McGill University Monteral, Kanada, membuktikan bahwa mendisiplinkan anak dengan cara kekerasan, cenderung membuat anak tumbuh sebagai seorang pembohong. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam karakter anak, antara lain, Pengabaian.
Pengabaian, membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri dan kurang aktif dalam berinteraksi, cenderung merasa kesepian dan terasing. (video youtube Guru Gembul yang berjudul Eps 769 | Gen Z Bakal Jadi Orang tua Gagal? Perhatikan, video penting buat manusia). Komunikasi yang kurang baik antara orang tua dan anak dapat berakibat pada perkembangan sosial dan emosional yang terhambat.
“Oleh karena itu, jangan pernah abaikan anak, ketika mereka bertanya ketika mereka butuh perhatian langsung ini,” ucap Guru Gembul pada salah satu video youtube Guru Gembul yang berjudul “Eps 769 | Gen Z Bakal Jadi Orangtua Gagal? Perhatikan, video penting buat manusia”)
Pendidikan Kepemilikan.
Pentingnya pendidikan kepemilikan yang mengedepankan pentingnya menghargai milik orang lain akan berdampak pada perilaku korupsi dan ketidakadilan di masyarakat. Sejak dini, tanamkan kepemilikan agar anak-anak tumbuh dengan rasa hormat terhadap barang dan hak milik orang lain. Satu di antara 10 masalah orang tua di Indonesia, justru tidak banyak mengajarkan tentang kepemilikan anak. Dampaknya, pengambilan barang milik orang lain, pengrusakan, penjarahan. Sebisanya anak diajarkan untuk berbagi, misalnya mainan dan menghargai benda yang dimiliki teman. Tanpa pendidikan ini, anak-anak cenderung menjadi egois dan tidak peduli terhadap perasaan orang lain, (Guru Gembul di salah satu video youtube Guru Gembul berjudul “Eps 769 | Gen Z Bakal Jadi Orang tua Gagal? Perhatikan, video penting buat manusia”).
Menjaga Lingkungan Hidup.
Kurangnya penanaman karakter menjaga lingkungan membuat anak-anak tidak peduli terhadap lingkungan sekitar. Pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian alam, akan menumbuhkan tanggung jawab terhadap keberlangsungan alam, sehingga anak-anak memahami bahwa tindakan mereka berdampak pada lingkungan. Misalnya, membuang sampah pada tempatnya, agar dapat membangun kesadaran anak-anak sejak dini, (Guru Gembul pada salah satu video youtube Guru Gembul yang berjudul “Eps 769 | Gen Z Bakal Jadi Orangtua Gagal? Perhatikan, video penting buat manusia”)
Kemandirian dan Kejujuran.
Pendidikan tentang kemandirian dan kejujuran sangat penting dalam membentuk karakter anak. Banyak anak yang tidak mendapatkan pendidikan ini, sehingga mereka cenderung bergantung pada orang lain dan tidak jujur dalam bertindak. Orang tua perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil keputusan sendiri termasuk hal kecil, seperti memilih pakaian, menentukan menu makanan diinginkan. Ini akan membantu anak belajar bertanggung jawab atas pilihan mereka dan mengembangkan rasa percaya diri.
Peran aktif orang tua dalam pendidikan.
Pendidikan anak tidak hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga orang tua. Peran aktif orang tua dalam proses pendidikan, tetap penting baik di rumah maupun di sekolah. Misalnya, orang tua dapat mengawasi tugas sekolah anak, terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler, dan mendiskusikan pelajaran di sekolah. Ini tidak hanya memperkuat ikatan antara orang tua dan anak, tetapi juga menunjukkan kepada anak bahwa pendidikan itu penting.
Dari penjelasan di atas, penulis simpulkan bahwa parenting di Indonesia perlu diperbaiki dengan memperhatikan beberapa aspek penting. Orang tua setidaknya mulai menyadari peran mereka dalam pendidikan anak mulai dari hal terkecil dan terdekat yang ada di sekitar anak. Dengan demikian, dapat membentuk generasi yang lebih baik, yang mampu menghadapi tantangan dan berkontribusi positif pada masyarakat. (Penulis adalah mahasiswa KPI semester I di IAIN Pontianak, dan tim website rumahbacahikmahnurbeting.or.id)
Editor: Ita Nurcholifah, Juniawati
Tim Web:
Monallisa
Nanda Meilisa Fitri
Pajar Wahyudi







