(Saumi Setyaningrum)
Libur semester tiba lebih cepat dari yang kupikirkan. Sahabat-sahabatku satu jurusan sibuk merencanakan pulang ke negara masing-masing. Ada yang memesan tiket pulang ke Indonesia, ada pula yang memilih liburan ke Penang, Langkawi atau bahkan keluar negeri. Aku? Aku memilih tinggal demi tanaman yang kucintai. Tanaman inilah nantinya yang membawaku meraih tujuan: PhD. Aku harus tetap tinggal di sini. Tidak ada kata menyerah untuk terus bertahan dalam kesunyian yang sudah kubayangkan.
“Libur di kampus? Tak bosankah kau?” tanya Intan, sahabat satu asrama beda blok asal Singkawang saat kami bertemu di depan laboratoriumnya. Sahabatku ini meskipun satu kampus dan satu asrama tapi kami sangat jarang bertemu. Kami terlalu sibuk dengan urusan laboratorium masing-masing. Hanya terkadang kami saling berkabar lewat wa.
Aku hanya tertawa kecil. Mungkin terdengar aneh, tapi entah kenapa aku ingin merasakan Unimas saat ia tidak dipenuhi suara kuliah dan lalu lalang manusia. Aku ingin mengenal sunyinya. Unimas dari awal aku datang memang sudah sunyi. Bagaimana rasanya kalau liburan di sini? Sendirian. Tanpa satu pun kawan. Aku belum punya banyak kawan di asramaku. Hanya Intan dan Nova yang selalu berkabar namun jarang bertemu.
Hari pertama libur, kampus berubah. Parkiran asrama dan kampus yang biasanya penuh dengan kendaran roda empat, satu demi satu menghilang tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah tanah lapang nan bersih dan menghijau. Lorong-lorong fakultas menjadi sepi. Gedung-gedung yang biasanya penuh diskusi menjadi ruang gema kosong. Makin tambah sunyi. Warung makan kampus tutup satu demi satu. Hanya ada satu warung makan yang harus dibuka. Ini wajib menyediakan makanan untuk kami setiap hari. Kami di asrama tidak diperbolehkan masak sendiri. Asrama selalu terjaga bersih dan rapi tapi terasa makin sunyi. Bahkan suara azan dari surau terdengar lebih luas dari biasanya, menyentuh lebih dalam ke jantung malam.
Setiap pagi, rutinitasku menyapa tanaman yang selalu kutunggu pertumbuhannya. Menyayangi mereka dengan rintih-rintih air dari shower penyiraman. Mereka tampak segar dan bahagia. Mereka tumbuh di dalam Greenhouse yang bersih dan terjaga. Greenhouse itu terletak di sisi belakang kampus, sedikit tersembunyi di balik deretan pohon-pohon dan taman yang tertata rapi. Pagi itu, setelah hujan semalam, udara lembap dan suasana tenang. Embun masih menggantung di daun-daun dan sinar matahari menembus atap kaca seperti cahaya surgawi yang jatuh perlahan ke bumi.
Begitu aku membuka pintu rumah kaca, aroma tanah basah dan dedaunan menyambut seperti pelukan lama yang kurindukan. Hangat. Lembut. Nyaman. Suasana di dalamnya berbeda dari luar, lebih sunyi, lebih hidup dalam diam.
Rak-rak tanaman tersusun rapi. Ada barisan anggrek dengan warna ungu keemasan, tomat yang mulai memerah hingga bibit-bibit kecil yang baru tumbuh dengan dua daun mungil yang menandakan harapan baru.
Lalat kecil beterbangan, tetapi tak mengganggu. Mereka seolah bagian dari eko sistem mini yang saling mengerti. Di sudut ruangan, kipas angin berdengung pelan, menjaga sirkulasi agar tetap stabil.
Aku berjalan pelan, menyentuh daun dengan jemari hati-hati, seolah tak ingin mengganggu percakapan rahasia antar tanaman. Butiran air masih menempel dan ketika jari menyentuhnya, terasa dingin dan segar serasa menghidupkan kembali rasa yang sempat lelah.
Di sana, waktu seolah berhenti. Tak ada kelas, tak ada tugas, tak ada pesan masuk di ponsel. Hanya aku dan kehidupan kecil yang tumbuh tanpa suara. Greenhouse ini bukan sekadar ruang tanam tapi tempat dimana hidup berjalan dalam diam, dan aku belajar bahwa pertumbuhan tidak selalu harus bising.
Setiap selesai urusanku dengan tanaman kecilku di Greenhouse, aku memutuskan menjelajah kampus seorang diri. Dari asrama Dahlia, aku berjalan melewati danau buatan yang tenang. Airnya memantulkan langit biru dan awan putih, seolah menyimpan rahasia mahasiswa yang pernah menangis dan tertawa di sisinya. Aku duduk di salah satu bangku di tepi danau, membuka buku catatanku yang lama tak kusentuh. Entah mengapa, tanganku menulis tanpa berpikir, “aku sedang jatuh cinta pada sunyi.”
Setiap hari, aku mengisi waktu dengan menjelajah sudut-sudut kampus Unimas yang belum sempat kukenali. Aku berjalan mengelilingi hutan kecil di belakang Perpustakaan, menemukan jalan setapak yang membawa ke taman tersembunyi. Aku menyusuri lorong-lorong fakultas seni yang sepi, menatap karya-karya mahasiswa yang tergantung sunyi di dinding galeri.
Ada lukisan abstrak dengan warna menyala dan aku seperti melihat potret pikiranku di dalamnya: kacau, berantakan tapi hidup.
Hujan turun deras sejak pagi. Aku terkurung di kamar asrama, hanya ditemani suara rintik hujan di jendela. Namun, justru di hari itu, aku merenungi banyak hal. Tentang kenapa aku memilih tinggal, tentang rasa rindu pada kampung halaman yang anehnya tidak terlalu membuncah dan tentang diriku yang mulai belajar menikmati kesendirian.
Malam hari, aku keluar saat gerimis masih jatuh perlahan. Payung kusimpan. Aku ingin merasakan air langit di wajahku. Kampus dalam gerimis tampak seperti dunia lain.
Lampu jalan memantulkan cahaya lembut di genangan, pohon-pohon bergoyang pelan dan udara membawa aroma basah yang menenangkan.
Aku berdiri di depan Perpustakaan. Di dinding kaca, kutatap bayanganku sendiri. Rambutku basah, wajahku pucat tapi mataku menyala. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa benar-benar hadir di sini, di tubuh ini, di tempat ini.
Esok harinya aku bertemu seseorang yang tak kusangka. Seorang staf Pustakawan tua yang masih bekerja meski kampus sepi.
“Libur pun kamu ke Perpustakaan?” tanyanya sambil tersenyum ramah.
Aku mengangguk. “Saya suka suasananya sekarang. Tenang.”
Dia tertawa kecil. “Kampus ini memang punya dua wajah. Yang satu penuh semangat dan kebisingan. Satunya lagi yang seperti ini, sunyi tapi menyimpan banyak pelajaran.”
Kami berbincang cukup lama. Ia bercerita tentang masa mudanya di Unimas, tentang mahasiswa-mahasiswa yang sering mengeluh tapi merindukan tempat ini setelah pergi dan tentang bagaimana waktu mengajari manusia melalui sepi, bukan melalui keramaian.
“Sunyi membuat kita mendengar suara hati sendiri,” katanya.
Kata-katanya tinggal di kepalaku berhari-hari. Dalam sunyi kampus, aku belajar memperhatikan napasku, gerak hatiku, bahkan luka-luka kecil yang selama ini kututupi dengan aktivitas padat. Aku menyadari betapa seringnya aku mengabaikan diriku sendiri.
Satu malam, aku berjalan ke arah jembatan kecil yang menghubungkan fakultas ke taman belakang. Langit malam cerah dan bintang terlihat lebih banyak dari biasanya.
Di sana, aku duduk, memandang air mengalir di bawah. Tak ada suara kendaraan, hanya alam yang berbicara.
Aku menulis lagi di catatan kecilku:
“Di antara hening ini, aku menjejak pelan. Tidak tergesa, tidak dikejar, hanya mengikuti bisik hati. Dan tiba-tiba, aku temukan, diriku yang selama ini kucari ada di sini. Diam, tapi menunggu untuk didengar.”
Liburan ini, yang semula kupikir akan membosankan, justru menjadi titik temu paling penting antara aku dan diriku tsendiri.
Minggu terakhir libur, kampus mulai hidup kembali. Satu demi satu mahasiswa datang dengan koper dan cerita baru. Tawa kembali menggema di lorong asrama. Suara musik, sapaan dan derap langkah memenuhi ruang.
Intan kembali dengan cerita seru dari rumah. “Gila! Kau tak ke mana-mana, tapi wajahmu berubah. Tenang banget. Macam habis naik gunung,” katanya.
Aku hanya tersenyum. Tak ada cara yang cukup untuk menjelaskan bahwa aku memang mendaki sesuatu bukan gunung, tapi diriku sendiri.
Di tengah segala kebisingan yang mulai kembali, aku tetap menyimpan satu ruang sunyi. Ruang itu akan selalu ada, menjadi tempatku pulang saat dunia terlalu bising lagi. Sebab aku tahu kini, bahwa sunyi bukan musuh tapi cermin. Selama liburan yang tak biasa ini, aku telah bercermin cukup lama.
Terkadang, yang kita butuhkan bukan perjalanan jauh atau perayaan meriah. Namun, hanya sebuah ruang yang tenang dan keberanian untuk diam. Di antara hening kampus hijau ini, aku tak sekadar berlibur. Aku telah menemukan 7kembali jejakku, yang lama hilang dalam rutinitas dan harapan orang lain. Kini, aku melangkah kembali, lebih utuh, lebih sadar dan lebih siap menghadapi dunia.
Editor: Juniawati
Tim Web:
Monallisa
Nanda Meilisa Fitri
Uray Ega Nanda Rianti
- Lebaran Sastra Silaturahim Literasi Tahun 2026/1447 H: Ajang Berkumpulnya Sastrawan Kalbar - 19 April 2026
- Ramadan: Bulan Kepedulian dan Persaudaraan - 28 Februari 2026
- Ramadahan Asik, Fokus Ibadah Untuk Meraih Berkah - 28 Februari 2026






