Ibu…
Kini aku sudah beranjak dewasa, gadis kecil yang dulunya selalu menangis di pangkuanmu . sekarang telah duduk di kursi kampus, mengejar mimpi besarnya dengan penuh harapan.ketika aku bertoleh ke arah barat, aku melihat sekumpulan keluarga cemara yang sangat begitu Bahagia. Pada saat itu pula aku langsung mengingat mu ibu, seketika air mata menetes membasahi pipiku. Aku menangis Bukan karena sedih pada diri sendiri, tapi karna kasihan pada cinta yang terlalu banyak pada mu. Aku tidak punya keluarga yang utuh seperti teman teman ku, akan tetapi aku sangat bersyukur memiliki sosok ibu yang sangat luar biasa. Yang selalu mengusahakan apapun untuk anaknya. Walaupun badan nya terasa remuk akibat bekerja. Ibu selalu bangkit dari kesakitan itu. Ibuku sangat hebat, ia ibu sekaligus pengganti peran ayah. Ibu rela mengorbankan segalanya demi aku dan adik. Bagiku ibu adalah rumah ternyaman untuk berpulang. Tidak ada satupun orang yang bisa menggantikan peran ibu, hidup lebih lama ya bu. Aku sangat berharap ketika aku sukses nanti ada ibu di dalamnya, karena tidak iklas rasanya ketika aku sukses ibu tiada . hatiku akan rapuh bu,aku akan hilang arah tanpamu . hidup ku akan baik baik saja selama ibu ada disampingu dan membersamai prosesku.maaf ya bu saat ini anak mu masih belum mapan,belum bisa memberikan yang terbaik untuk mu. Tapi percayalah perjuangan ini ,hasilnya untuk membuat ibu bangga. Agar bisa beli barang apa yang ibu mau, tanpa melihat harga mahal atau tidak, dan bahkan bawa ibu jalan jalan mengelilingi dunia. Aku tau, aku bisa ada di titik ini berkat doa ibu kan? Waktu ibu menadahkan tangan untuk berdoa, aku mendengar isak tangis mu sambl bersorai” ya allah lindungilah anak ku dimana pun ia berpijak, kuatkan lah batin nya ketika menghadapi kerasnya dunia” . seketika aku menangis mendengarnya, ibuku tidak bisa melihat anak nya sakit, pasti dia repot dan bersedih , dan rela tidak tidur demi menjaga anaknya yang seedang sakit . selalu mengelus kepala ku hingga tertidur pulas dan memastikan anak nya baik baik saja. Beribu terimakasih ku sampaikan untukmu ibu…
Kau sangat begitu berjasa dalam hidup ku. Beribu maaf untuk mu ibu, seringkali aku membuatmu marah. Tapi percayalah, kelak suara marah mu lah yang paling aku rindukan. Aku berjanji, aku akan selalu membuat ibu tersenyum,akan selalu merawat ibu di masa tua seperti ibu merawatku pada saat aku kecil. Durhaka rasanya ketika aku menelantarkan orang yang berkorban setengah mati membesarkan ku. .
Ibu… aku ingin kau tahu, di saat dunia tak berpihak kepadaku aku selalu memejamkan mata membayangkan wajah mu. Bayangan itu menjadi kekuatan bahkan penenang untuk ku di saat duniaku berantakan.aku teringat bagaimana tangan mu mulai kasar karena kerja keras, tangan yang tak pernah letih bergerak demi memastikan piringku terisi. Di setiap suap nasi yang ku makan di perantauan ini, ada tetesan keringatmuu yang ku rasakan. Itulah alasan ku ingin sukses, malu rasanya jika aku menyerah sekarang, Sementara kau tak kenal kata menyerah Aku sering merenung sendirian, seraya berkata “apakah aku bisa membalas jasa ibuku ya rabb” seketika air mata menetes.
Umur ibu semakin hari semakin menua, sedangkan aku disini belum jadi apa apa. Kecemasan selalu menghantui fikiran ku, tidak ada kabar yang membuat diriku senang melainkan mendengar kabar kesehatan ibuku. Semoga rumah ku abadi,mekar di sepanjang hari menerangi insan yang bernadi walaupun usianya telah menuju senja.
Penulis: Suci Anggraini
- Kunjungan dan Kerja Sama Program TBM Ar-Rahmah dan TBM Kampung Baca Tansal - 27 Mei 2026
- Selamat dan Sukses Sidang skripsi Monallisa - 21 Mei 2026
- Selamat dan Sukses Sidang Skripsi Nanda Melisa Fitri - 21 Mei 2026






