(Syamratun Nurjannah)
Setiap perempuan adalah pribadi yang unik dengan pemikiran, perasaan, impian, dan pengalaman hidup yang berbeda. Mereka memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing, serta cara pandang yang khas terhadap dunia. Perempuan seringkali menjadi tulang punggung keluarga, sebagai ibu, saudara perempuan, anak perempuan, dan pasangan. Mereka memainkan peran penting dalam membesarkan generasi penerus, menjaga keharmonisan rumah tangga, dan memperkuat ikatan sosial dalam komunitas. Perempuan masa kini menunjukkan peran yang semakin luas dan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, baik di ranah domestik maupun publik. Tidak lagi terbatas pada peran tradisional sebagai ibu rumah tangga, perempuan kini telah mengambil bagian aktif dalam dunia pendidikan, ekonomi, politik, sosial, dan teknologi.
Membicarakan makna emansipasi tentu tidak akan lepas9 dari pemikiran terhadap kaum laki-laki. Membicarakan makna emansipasi tentu tidak akan lepas dari pemikiran terhadap kaum laki-laki, karena perjuangan untuk kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki bukan hanya persoalan satu gender saja, melainkan tanggung jawab bersama. Emansipasi bukan berarti menempatkan perempuan di atas laki-laki, melainkan menciptakan keseimbangan dan keadilan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pendidikan, pekerjaan, dan pengambilan keputusan. Dalam konteks ini, laki-laki juga perlu terlibat secara aktif, baik sebagai pendukung maupun mitra dalam mewujudkan kesetaraan tersebut. Tanpa perubahan sikap dan pemahaman dari kaum laki-laki terhadap peran dan hak perempuan, emansipasi tidak akan tercapai secara menyeluruh. Oleh karena itu, keterlibatan laki-laki dalam mendukung emansipasi menjadi kunci penting untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara.(Lailia, 2022)
Dalam dunia kerja, perempuan telah menduduki posisi-posisi strategis, mulai dari pengusaha sukses, pemimpin perusahaan, hingga pejabat pemerintahan. Di bidang politik, semakin banyak perempuan yang terlibat dalam pembuatan kebijakan dan duduk di parlemen, memperjuangkan hak-hak serta kepentingan masyarakat luas. Dalam bidang sains dan teknologi, perempuan juga mencatat prestasi gemilang sebagai peneliti, insinyur, dan inovator.Tak kalah penting, kiprah perempuan juga terlihat dalam perannya sebagai agen perubahan sosial. Mereka aktif dalam gerakan sosial, lingkungan, dan kemanusiaan, membawa perspektif baru yang inklusif dan empatik. Media sosial pun menjadi sarana bagi perempuan untuk menyuarakan aspirasi, membangun komunitas, serta menginspirasi satu sama lain.
Perempuan diidentikkan sebagai orang terbelakang “wong wingking” yang tidak setara dengan kaum pria. Sehingga tidak diberi kebebasan untuk berpendapat, untuk memiliki cita-cita, dan mengenyam pendidikan yang layak. Perempuan umumnya diposisikan sebagai pelengkap dalam struktur sosial—diharapkan tunduk, setia, dan menjalankan peran domestik tanpa banyak ruang untuk menentukan nasibnya sendiri.
Namun, di balik keterbatasan itu, banyak perempuan yang menunjukkan kiprah luar biasa sebagai pejuang, pendidik, dan penggerak perubahan, tokoh R.A. Kartini menjadi simbol perjuangan emansipasi perempuan lewat pemikiran dan tulisannya tentang pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan. Kartini, seorang perempuan Jawa dari keluarga bangsawan di Jepara, telah menunjukkan semangat dan keberaniannya dalam mengekspresikan aspirasi dan pemikirannya melalui tulisan. Meskipun terlahir di masa yang penuh dengan keterbatasan bagi perempuan, Kartini tetap berjuang untuk memberikan hak pendidikan yang setara bagi kaum perempuan.( https://instiki.ac.id)
Kartini ingin menekankan bahwa perempuan memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak sebagai cara untuk membebaskan mereka dari kebodohan dan keterbelakangan. Sebab pendidikan yang baik merupakan modal utama bagi keluarga yang bahagaia dan sejahtera.(Adora Kinara, 2024) Pendidikan yang baik merupakan modal utama bagi keluarga yang bahagia dan sejahtera karena melalui pendidikan, setiap anggota keluarga dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai moral yang diperlukan untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik. Pendidikan membuka peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, meningkatkan taraf hidup, dan menciptakan kestabilan ekonomi dalam rumah tangga. Selain itu, pendidikan juga berperan dalam membentuk pola pikir yang positif, sikap saling menghargai, serta kemampuan untuk menyelesaikan konflik secara bijaksana, yang semuanya merupakan fondasi penting bagi keharmonisan keluarga. Dengan demikian, investasi dalam pendidikan bukan hanya membawa manfaat individu, tetapi juga berdampak besar terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga secara keseluruhan.
Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan pendidikan. Jejak kemandirian dan kecerdasannya tetap melekat. Kartini masa kini atau Kartini modern, para wanita mempunyai kiprah dan karier di dunia kerja. Salah satu wanita bertekad baja, yang semangatnya mendukung pendidikan anak bangsa tidak kalah dengan RA Kartini yaitu Ummi Fadhilah. Perempuan cantik kelahiran Blora, 14 Februari 1965 (rujukan). Lahir ditengah kondisi ekonomi yang sedang sulit-sulitnya. Di tengah keluarga sederhana. Masa remajanya dihabiskan dengan menjadi buruh tandur (tanam padi), dan tidak berkesempatan sekolah.
Berdasarkan situasi sosial perempuan di sekitarnya, susahnya menjadi perempuan yang tidak berpendidikan, tidak memiliki kesempatan kerja dengan upah layak, tidak memiliki kemandirian dalam kehidupan mereka. Istri tidak selalu mendapat keadilan dalam tumah tangganya, tidak memiliki pendapat. Komunikasi hanya mengandalkan surat menyurat, yang sering justru salah alamat, ditambah mereka tidak memiliki kemandirian ekonomi, sehingga semakin mempersempit langkah mereka untuk lepas dari belenggu rumah tangga, maka Ummi bertekad putrinya jangan sampai bernasib sama dengan kebanyakan perempuan dimasa itu. Tekad itu ia wujudkan melalui kerja keras, bersama sang suami yang seorang guru SD. Sejak dini, Ummi menanamkan pentingnya sekolah.
Ummi adalah satu dari sekian “Kartini”yang lahir setelah Raden Ajeng Kartini. Ide, gagasan dan tekad Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya, menginspirasi kaum wanita, bahwa mereka tetap memiliki kesempatan yang sama dengan kaum pria, baik dalam pendidikan, pekerjaan. Istilah yang digunakan kesetaraan,yang berarti setiap individu apapun jenis kelaminnya diperlakukan secara adil, setara, dan tanpa diskriminasi, terlepas dari perbedaan gender, ras, agama, status sosial, atau latar belakang lainnya. Dalam konteks sosial, kesetaraan berarti memberikan peluang yang sama bagi semua orang untuk berkembang, berkontribusi, dan meraih kehidupan yang layak.
Kesempatan yang sudah didapatkan kaum perempuan saat ini, tentu sangat sayang untuk disia-siakan. Karena yang kita lakukan sekarang terutama dalam pengembangan diri sebagai perempuan secara pribadi, kita juga memiliki tanggung jawab sosial untuk mendidik anak-anak kita sebagai penerus. Jika baik usaha kita dalam mengembangkan diri saat ini, maka baik pula hal baik yang akan para perempuan dapatkan di masa mendatang. Sebagaimana Ummi Fadhilah, yang saat ini sedang menikmati masa tuanya bersama suami dengan tenang. Ketiga putrinya berhasil mendapatkan pekerjaan yang diimpikan, dosen, guru serta perawat. Bahkan satu putrinya bekerja menjadi perawat di Negara Belanda. Ia berhasil mematahkan keraguan sekelilingnya, bahwa sungguh dalam kekurangan dan keterbatasannya, tidak bersekolah, ia berhasil mengantar putrinya mengenyam pendidikan yang layak, menjadi perempuan mandiri dan berdikari. Nyala Kartini tumbuh didadanya, pikirannya tidak sesederhana keadaannya. Ummi sungguh bersyukur. Mata tuanya sering menerawang kedepan, penuh pengharapan semoga anak cucunya kelak yang kebanyakan perempuan akan berhasil melewati keras dunia. (Penulis adalah Dosen tetap prodi Ekonomi Syari’ah di fakultas yhFEBI IAIN Pontianak)
Editor: Juniawati
Tim Web:
Monallisa
Nanda Meilisa Fitri
Pajar Wahyudi
- Lebaran Sastra Silaturahim Literasi Tahun 2026/1447 H: Ajang Berkumpulnya Sastrawan Kalbar - 19 April 2026
- Ramadan: Bulan Kepedulian dan Persaudaraan - 28 Februari 2026
- Ramadahan Asik, Fokus Ibadah Untuk Meraih Berkah - 28 Februari 2026






