Menu

Mode Gelap
Call Article Paper Special For National Education Day! Kartini Masa Kini: Kolaborasi untuk Indonesia Mandiri dan Maju Wanita dan Profesi Akuntansi: Antara Peluang, Tantangan, dan Inovasi di Era Global Kartini Masa Depan : Inovasi, Kesetaraan, dan Kemandirian Selamat Hari Pendidikan Nasional 2025✨

Berita dan Artikel · 28 Feb 2026 09:17 WIB ·

Ramadahan Asik, Fokus Ibadah Untuk Meraih Berkah


 Ramadahan Asik, Fokus Ibadah Untuk Meraih Berkah Perbesar

(Uswatun Hasanah)

Bulan Ramadan adalah bulan yang disebut dengan bulan seribu bulan, karena di dalamnya terdapat amalan yang dilipatgandakan. 10 hari pertama di penuhi dengan ampunan, 10 berikutnya Allah Swt berikan rahmat sebanyak-banyaknya untuk seluruh hambanya dan 10 hari terakhir Allah kabulkan doa. Tidak hanya itu, bulan Ramadan mempunyai keajaiban dan kelebihan yang mungkin hanya beberapa orang yang mengetahui, ada beberapa tingkatan puasa yang semua kembali kepada ketakwaan seseorang.

Puasa sebagaimana yang kita ketahui maknanya adalah menahan, dan mencegah, menahan dari tidak makan dan minum serta mencegah dari dari hal-hal yang dilarang, karena puasa bagi golongan pertama adalah tidak hanya menahan diri dari tidak makan dan minum juga menahan anggota tubuh, hati, dan pikiran untuk melanggar perintah Allah. Golongan kedua, mereka yang puasa beserta anggota tubuhnya, lisannya, tangannya, kakinya, tetapi pikiranya, hatinya terkadang masih tidak berpuasa (berprasangka buruk, merendahkan orang, dan halusisansi yang terkadang menyesatkan).

Ketiga, dan ini yang lumrah dikerjakan kebanyakan muslim di dunia, orang yang berpuasa hanya sekadar tidak makan dan minum tetapi tetap saja tingkah laku, perbuatan dan ucapannya masih melanggar. Katanya berpuasa, tetapi lisannya menyakiti tetangga dan saudara, KTP- nya Islam tapi salat dan puasanya bolong, Al-qur’annya hanya sebagai penghias lemari. Tidak ada hal yang mengingatkan diri akan kematian. Hidayah itu mahal, maka berbahagialah seorang hamba yang sebelum datangnya Ramadan sudah membuka hati dan pikiran untuk menyambut datangnya bulan Ramadan.

Ramadan tidak hanya tentang puasa, yang berhubungan dengan ibadah ritual keagamaan tetapi menyimpan segala aktivitas sosial. Salat tarawih mengajarkan kita sebagai seorang muslim untuk selalu kompak (bersatu) berjamaah dalam kebaikan karena pahalanya dilipatgandakan. Tadarusan tidak hanya tentang mengaji tapi juga ada sosialisasi, silaturahmi antar saudara, keluarga, sanak saudara juga tetangga. Salat di masjid, di surau kita bisa mengenal tetangga, silaturahmi, dan ketika jamaah saling membawa takjil adalah sesuatu yang luar biasa dan berlomba mencari dan mengejar pahala yang dilipatgandakan.

Puasa Ramadan, merupakan perintah wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan tua muda, tidak pandang bulu. Dari segi sosial, seorang muslim yang kaya, lebih harta disamping bisa membantu saudara yang tidak mampu juga sebagai pembelajaran, perhatian terhadap nasib saudara kita yang tidak mampu, mereka yang berada di bawah garis kemiskinan, dan dari segi Kesehatan, puasa adalah obat segala macam penyakit.

Baca Juga  Ucapan Selamat Ulang Tahun RB-HNB Oleh Pembina Rumah Baca Hikmah Nur Beting

Bagaimana tidak perut yang biasa diisi penuh harus puasa 12 jam dan selama itu perut istirahat sehingga penyakit perlahan akan mati secara perlahan. Bulan yang Allah berikan keberkahan setelah waktu berbuka. Bagaimana kita tidak bersyukur atas segala karunia yang Allah limpahkan, karena hanya dengan seteguk air dan kurma sudah cukup mengenyangkan.

Salat tarawih yang tidak hanya mengajarkan kebersaman juga menyimpan manfaat kesehatan. 11 rakaat dengan sujud dan rukuk perlahan akan mengurangi peradangan persendian, asam urat, pegal linu dan nyeri sendi. Dalam ilmu kedokteran ini termasuk metode yang dicari karena banyak manfaatnya, tidak hanya mengurangi lemak juga ngilu yang biasa datang menyapa.

Hanya pada bulan Ramadan sesame muslim war takjil dengan tetangga sebelah, sesuatu yang jarang terjadi. Selain itu, bukan hanya umat Islam yang berebut menu buka puasa, melainkan masyarakat umum juga ikut berburu makanan dan minuman. Perubahan jadwal makan, tidur, dan aktivitas keagamaan sebenarnya dari kita dan untuk kita. Ketika tidur saja berpahala dan aroma mulut orang berpuasa seperti wangi kasturi, semua orang berlomba dalam kebaikan dan momen yang di tunggu saat kita merayakan kemenangan Pelajaran untuk menjadi pribadi yang sederhana dalam segala hal.

Perubahan porsi makan pada bulan puasa, juga ikut berubah dari yang biasanya makan 3 kali sehari, pada bulan puasa hanya 2 kali sehari, yang dimulai dengan makan sahur dan berbuka puasa dengan aneka ragam menu belum lagi camilan. Betapa Islam sungguh sangat luar biasa dalam mendidik dan mengajarkan kita agar menjadi manusia yang sehat dan bermanfaat.

Pada hari raya Idul Fitri adalah bukti bahwa masa percobaan telah selesai, masa karantina telah usai, puncaknya lebaran kita bebas makan dan minum apa saja. Namun sebagian umat Islam momen Idul Fitri juga menimbulkan rasa sedih karena Ramadan telah pergi. Apakah masih ada Ramadan berikutnya atau malah sebaliknya, sudah terkubur dalam tanah? Sejatinya Ramadan adalah pelajaran dan bagaimana ibadah kita kepada Allah, karena yang Allah minta dari hambanya manusia hanya satu yaitu, “Tiadalah aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk menyembah (beribadah) kepadaku.”

Baca Juga  Kartini Masa Depan : Inovasi, Kesetaraan, dan Kemandirian

Oleh karena itu, manfaatkan waktu selagi Ramadan masih ada. Jaga salat, tilawah, amalan-amalan sunah, hati, dan lisan harus dijaga. Maafkan mereka yang telah melukai hati dan perasaan kita, ikhlaskan hati atas segala yang Allah berikan dan minta maaf atas segala kesalahan yang sengaja maupun tidak. Buka hati dan lapang dada, jangan menyimpan iri dengki dan dendam, kembalikan kepada sang pemilik kekuasan bahwa hanya Allah yang membolak-balikan hati, karena semuanya Allah yang mengatur. Mintalah kepada Allah berkah dan ampunan untuk diri dan keluarga, dan jangan pernah merasa diri tidak berdosa apalagi menganggap rendah orang, itu bukan ciri pribadi Nabi Muhammad.

Ramadan Gen Z

Ramadan adalah bulan yang dinanti-nantikan Gen Z, karena tidak hanya menyimpan keberkahan tetapi berbagi, dan seru-seruan, bisa bukber dengan kawan-kawan seangkatan atau alumni itu sesuatu yang luar biasa, dimana tidak semua orang bisa melakukannya entah karena kesibukan atau berada di luar daerah, (tidak tinggal bersama lagi ) bisa berbagi dengan kawan-kawan di jalanan berbagi Takjil.

Meski tidak seberapa seru tetapi manfaatnya terasa, Gen Z turun ke jalan menyaksikan hiruk- pikuk perkotaan atau berbagi dengan anak-anak yatim-piatu, duafa, janda dan musafir. Adapula yang mengikuti kultum, kajian Duha, atau kegiatan keagamaan yang biasa di selenggarakan di setiap masjid dan surau dan pematerinya tokoh terkenal. Oleh karena itu, sangat disayangkan ketika ada kegiatan keremajaan, seperti pelatihan, sosialisasi, bazar murah, dan Talk Show, yang dihadiri banyak komunitas, dari kalangan pemerintah ataupun swasta yang bukan sekadar mengikuti segala kegiatan, melainkan menimba ilmu, silaturahmi dan ajang mencari pahala, agar semakin menjadi pribadi yang lebih bertakwa, berwibawa tetapi tetap bersahaja dan sederhana.

Gen z yang memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya insya Allah dengan berbekal ilmu dan banyaknya saudara menjadi manusia yang berguna, kata Rasulullah, “ Manusia yang paling baik adalah mereka yang paling bermanfaat untuk sekitarnya.“ (Penulis adalah Ibu Rumah tangga).

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Ziarah Makam dan Harapan Kaum Marginal

18 Maret 2026 - 22:11 WIB

Ramadan: Bulan Kepedulian dan Persaudaraan

28 Februari 2026 - 09:50 WIB

VERSI-KU DI 2026

29 Januari 2026 - 11:31 WIB

Tahun 2026 Kuatkan Semangat Berkarya

29 Januari 2026 - 11:24 WIB

Yuk Menulis Tips Hadapi Tantangan 2026

21 Januari 2026 - 12:03 WIB

Setulus Kasih Ibu

31 Desember 2025 - 21:20 WIB

Trending di Berita dan Artikel