Menu

Mode Gelap
Pembina Rumah Baca Hikmah Nur Beting dan TBM Ar-Rahmah Sampaikan Ucapan Hari Kartini 2026 Call Article Paper Special For National Education Day! Kartini Masa Kini: Kolaborasi untuk Indonesia Mandiri dan Maju Wanita dan Profesi Akuntansi: Antara Peluang, Tantangan, dan Inovasi di Era Global Kartini Masa Depan : Inovasi, Kesetaraan, dan Kemandirian

Uncategorized · 19 Jul 2025 11:30 WIB ·

Rindu


 Rindu Perbesar

(Uswatun Hasanah)

Rindu

Mungkin inilah, yang di sebut hayalan tingkat dewa

Mengharap sesuatu yang tidak akan pernah mungkin nyata

Mingkin inilah yang disebut bertepuk sebelah tangan, bagai pungguk merindukan bulan.

 

Apalah artinya aku, siapalah aku, dan aku bukan siapa-siapa

Aku tidak akan mampu menggapaimu karena aku hanyalah sekian ribu sampah yang bertaburan di muka bumi dengan pasrah

Aku tidak akan mampu meraihmu karena aku hanyalah insan yang terbuang di akhir zaman.

 

Aku tidak akan mampu untuk hanya bermimpi milihatmu.Yah, melihatmu dari jauh, karena aku hanyalah sepotong daging hina dirimbunnya waktu

Aku tidak akan mampu bersanding duduk denganmu, mencium telapak tanganmu.

Aah, itu tidak akan mungkin terjadi.

 

Aku hanyalah aku si pendosa yang dosanya bak buih di lautan

Aku hanyalah aku si kecil yang terpinggirkan dari sudut ketakwaan

Aku hanyalah aku si kotor yang terkucil dari hingar-bingarnya keduniaan.

 

Aku hanyalah aku yang terasing dari peradaban

Aku hanyalah aku yang mengharap untuk berjumpa hanya untuk menyampaikan kata aku merindukanmu tak terbatas waktu

Aku merindukamu dalam sendiri

Aku merindukanmu dalam sepi

Aku merindukanmu.

 

Apakah engkau menjawab salamku

Apakah engkau mendengar panggilanku

Apakah engkau merasakan bahwa kurindu

Bagaimana mungkin bisa aku mengharapmu datang

sedang dalam jasadku tak mampu menampung dosa yang kupikul

 

Bagaimana mungkin bisa aku menghayalmu hadir sedang dalam diri penuh nafsu

Bagaimana mungkin aku bisa meraihmu sedangkan keadaanku tidak ada waktu untuk berserah diri dan mengharap syafaatmu.

Aku terlalu angkuh dengan ibadahku

Aku terlalu sombong dengan ketakwaanku

Aku terlalu berbangga diri dengan segala amal baikku

 

Kuadukan pada siapa air mata yang menetes ini

Kuadukan kepada siapa detak jantung yang berdebar ini, sedang ketika disebut namamu gemetar tubuhku

Ketika ada yang bercerita tentangmu rindu ini mengajak berlari

Ada cemburu menanti, ada gelisah menghampiri, ada tanya mengetuk hati

Apakah aku rindu padamu atau hanya perasaanku yang tidak menentu

Baca Juga  Diri Yang Terluka

 

Biarlah cukup aku saja yang tahu bahwa rindu ini mendekap erat tubuhku

Bahwa rindu ini akan kubawa kemana langkah kakiku pergi. Akan kubawa kemana restumu menyertaiku

Menangis dalam diam, panjang, ditemani suara jangkrik yang entah apa mereka musyawarahkan. Seakan makin melengkapi irama perjalanan malam masuk ke sepertiga fajar. Semilir angin yang sepoi-sepoi datang menambah kesempurnaan alam.

 

Aku masih terisak, tertunduk dalam sajadah lusuh, mengharap tertemu denganmu, melihatmu dalam ruangan yang hanya kita saja yang tahu.

 

Biarlah hati ini meratapi diri, masih dalam tangis yang tidak bisa kuajak berhenti. Perlahan memaksakan diri bangun dan berdiri mematung melihat bintang bertaburan. Kemudian bertanya, mungkin mereka bisa membantu dalam bingungku atau paling tidak merasa apa yang terjadi denganku. Mengapa aku merasa linglung, mengapa aku rasa bumi ini bergoyang.

 

Kemana aku harus berteriak, kepada siapa harus kuadukan segala rasa yang tengah minimpaku.

Aku hanya ingin bertemu denganmu.

Bagaimana caranya? Pertanyaan itu membuat otakku rasanya mau meledak. Pertanyaan itu seakan menghimpit dadaku.

Dengan apa kusaksikan diri bahwa aku merindukanmu

Bintang diam, dan langitpun ikut.

 

Mengapa tidak satupun yang bisa menolongku.

Mengapa tak satupun bintang bisa membantu

Kemana harus pergi?

Kemana harus kulabuhkan diri?

Berjam-jam mematung, menatap langit

 

Mengapa kalian tega kepadaku? tanyaku dalam hati

Apakah kalian tidak pernah merindukan seseorang?

Dari jauh mereka tampak berkelip dan bersinar seakan mereka mau menjawab.

 

Kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengan seseorang yang kamu rindu Karena kamu pendosa. Ya, aku memang banyak dosa

Aku memang tidak pantas untuk merindukanmu, ya Rasulallah

Aku memang tidak layak untuk mengharapmu datang wahai kekasih Allah.

 

Entah sampai berapa putaran tasbih yang masih melekat di tanganku

Entah sampai kapan aku menangis dalam sepi, tertunduk lesu

Mencoba duduk dalam diam, masih dalam ratapan panjang, masih dalam isak tangis, masih dalam keheningan, dan masih dalam suasana yang tidak menentu.

Baca Juga  Ucapan Selamat Ulang Tahun RB-HNB Oleh Dosen Kaunselor Singapore

Angin sepoi datang silih berganti seakan mereka datang untuk menghiburku Entah jam berapa aku masih duduk terdiam, di temani langit yang ikut terdiam seakan menyatu dalam keheningan malam

Masih dalam lidah kelu mencoba menyapamu.

 

_Assolatu wassalamu alaika ya Rasulallah_

Entah berapa kali aku memanggilmu, _Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad, Allahumma Shollu alaihi wasallim_,

_Assalamualaika ayyuhan nabiyu warohmatullahi waborakatuh_

Tolong jawab salamku, ya Rasulullah

Terasa tubuhku gemetar karena bumi bergoyang

 

_Shollahu ala Muhammad, Shollawahu alaihi wassallam_

Tolong jawab salamku, ya Rasulullah

Tolong ya Allah, sampaikan kepada kekasihmu, aku rindu

Air mataku berlinang, mengapa aku seperti orang gila,

Kemana harus kuluahkan segala rasa, seakan tidak berdaya

Kucoba berdiri masih dalam lisan yang dari tadi tidak berhenti memanggilmu.

 

_Ya Rasulullah, ya habiballah, ya nabiyallah_

Aku merindukanmu dalam diam

Aku ingin berjumpa denganmu,

Ku tak mampu berdiri

Tersungkur dalam linangan air mata

Menangis lagi dan lagi

 

Mengapa aku seperti ini?

Angin masuk ke dalam mukenaku, seakan menyuruh untuk bangun Dinginnya masuk ke tulang-belulangku

Aku masih dalam isak tangis sebelum kurapatkan mukena

 

Ya Rasulallah

_Assalatu wassalamu alaika, ya Rasulallah_

Ku baringkan diri datas kasur empuk yang bagiku adalah tempat ternyaman,, tiba-tiba air mata menetes lagi, terbayang dirimu berbaring di atas pelepah kurma

Aku tak pantas di sebut umatmu wahai kekasih Allah

Aku hidup serba kecukupan, memiliki keluarga, kendaraan bisa makan sepuasanya dan bisa kemana saja, Sedang engkau tak punya apa-apa

Editor: Juniawati

Tim Web:

Monallisa

Nanda Meilisa Fitri

Uray Ega Nanda Rianti

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 21 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Batin

27 September 2025 - 08:07 WIB

Jerita Jiwa

27 September 2025 - 08:04 WIB

Yuk Menulis Edisi “Tema Bebas” Bersama Rumah Baca Hikmah Nur Beting

10 September 2025 - 14:15 WIB

Ucapan Selamat Ulang Tahun RB-HNB Oleh Pembina Rumah Baca Hikmah Nur Beting

7 September 2025 - 20:55 WIB

Ucapan Selamat Ulang Tahun RB-HNB Oleh Ketua Rumah Baca Hikmah Nur Beting

7 September 2025 - 20:47 WIB

Ucapan Selamat Ulang Tahun RB-HNB Oleh Dosen Kaunselor Brunei Darussalam

7 September 2025 - 12:12 WIB

Trending di Uncategorized