(Moh Sobri)
Akhir-akhir ini, masalah kian masalah terus muncul tanpa henti. Mulai dari Korupsi, Kolusi, Nepotisme, intimidasi aparat, pembredelan karya seni, bahkan yang terbaru ini ada intimidasi aparat terhadap penobaran film pesta babi.
Saya pun berfikir, kayaknya masalah yang ada bangsa ini mirip dengan apa yang ditulis oleh ibnu khaldun dalam bukunya yang berjudul “Muqaddimah” salah satunya membahas tentang runtuhnya suatu negara.
Sebelum itu, kita berkenalan dulu dengan ibnu khaldun, siapa dia?
Ibnu khaldun atau dengan nama panjangnya Abu Yazid Abdur Rahman Ibnu khaldun adalah seorang sosok intelektual, sejarawan, filsuf, diplomat, dan politisi yang berasal dari Tunisia.
Pemikiran-pemikirannya telah menjadi khazanah bagi ummat manusia salah satunya yakni bukunya yang berjudul Muqaddimah.
Dalam buku tersebut, ibnu khaldun menjelaskan tentang ketika karakter dasar penguasa adalah menikmati kebesaran secara individual, hidup bermewah-mewah dan senang berdiam diri. Maka, kerajaan akan berada diam kang kehancuran.
Untuk menjelaskan hal itu, ibnu khaldun membaginya menjadi beberapa bab:
1. Menikmati sendiri kebesaran (kekuasaannya)
Menurut ibnu khaldun, para penguasa harus satu fanatisme yang tak lain tak bukan hanya untuk kemajuan negara. Dan apabila pemimpin tidak mempunyai fanatisme itu, maka negara akan sangat berpotensi hancur karena tidak ada dan hilangnya sikap patriotisme (harapan) dari rakyat.
2. Hidup bermegah-menahan
Menurutnya, dengan gaya hidup bermegah-menahan dari para penguasa bisa membuat pendapatan dan kebutuhan negara menjadi tidak stabil.
Nah, jika hal ini telah menjadi kebiasaan baik penguasa ataupun rakyatnya, maka sekali lagi negara akan berpotensi hancur. Karena analisa terjadi suatu musibah berupa bencana atau perang, mereka akan bingung bagaimana mengatasinya. Tak lain tak bukan solusinya pajak yang dinaikin, dan disinilah kondisi negara akan hancur.
3. Penguasa hidup tenang dan bermalas-malasan.
Menurut ibnu khaldun, jika para penguasa memilih hidup tenang dan bermalas-malasan, maka kekuatan negera akan melemah dan rakyatnya akan tenggelam dalam situasi tersebut.
Seperti yang dibilang oleh G. Michael Hopf, seorang penulis asal Amerika Serikat dan veteran Angkatan Laut AS. “Masa sulit melahirkan orang-orang kuat. Orang-orang kuat menciptakan masa-masa indah. Masa-masa indah melahirkan orang-orang lemah. Dan orang-orang lemah menciptakan masa sulit.”
Jika hal tersebut sudah terjadi, maka sikap kritis dan kepedulian akan hilang. Sehingga yang tersisa hanyalah simbol kehormatan saja, tak ayal seperti omong kosong dan negara benar-benar berapa diam bang kehancuran.
Editor: Juniawati
Tim Web:
Monallisa
Uray Ega Nanda Rianti
Nanda Meilisa Fitri






