Setiap menjelang bulan puasa, saya mengajak anak-anak berziarah ke makam Omanya. Memasuki pintu gerbang pemakaman, para peziarah ada yang sedang membersihkan makam keluarganya, ada juga yang berdoa dan membaca surah Yasin.
Setelah kami sampai di makam Oma, kami didekati dua orang anak kecil yg menawarkan jasa membersihkan makam. Saya pun mengiyakan dan mempersilakan mereka membersihkan makam Oma.
Keesokan harinya, si bungsu berkata, “Ma, bolehkah saya main ke rumah teman yang rumahnya dekat kuburan?” Saya balik bertanya, “untuk apa main ke sana?” Dia menjawab, “mau ikut teman, membersihkan makam”.
Saya sempat terdiam dengan keinginan si bungsu. Saya menyarankan, dia meminta izin ke Papanya. Ternyata Papanya membolehkan.
Singkat cerita, menjelang magrib, si bungsu bercerita pengalamannya membersihkan makam, sambil mengeluarkan uang dari sakunya.
Dia membersihkan makam yang diziarahi sepasang suami istri dengan pakaian sederhana. Nama di makam sudah buram. Tapi perhatiannya terhadap pakaian yang dikenakan peziarah makam tersebut. Sebelum sempat bertanya, dia melanjutkan ceritanya, temannya mem- briefing, Sebelum bekerja, temannya menyaran dia memperhatikan peziarah dari pakaian yang digunakan. “Jika peziarah menggunakan gaun, sepatu dan tas brandid, segera kau dekati dan menawarkan jasamu. Mereka royal memberi upah.”
Si bungsu sudah berencana bersama temannya menjual bunga yg akan ditaburkan di makam pada saat ziarah
salat idul fitri, untungnya lebih besar.
Dari pengalaman Si Bungsu, bisa ditarik sebuah kondisi masyarakat marginal yang menggantungkan ekonomi mereka dari peziarah makam. Mereka menjual jasa sebagai penjual bunga dan pembersih makam.
Saat lebaran, kita ke makam dengan pakaian ysng indah dipandang mata. Di sekeliling kita terdapat beberapa anak dengan pakaian ala kadarnya sambil menenteng sabit, ember, dan lap. Mereka menanggalkan kesenangan lebaran, dan memilih menjadi penjual bunga dan pembersih makam. Semoga anak-anak seperti ini menjadi anak yang sukses, mereka anak-anak yang tumbuh dalam kesederhanaan dan bisa membaca peluang ekonomi. (Penulis adalah Dosen IAIN Pontianak Prodi Manajemen Dakwah: Dr. Patmawati, M.Ag)
- Ziarah Makam dan Harapan Kaum Marginal - 18 Maret 2026
- Setulus Kasih Ibu - 31 Desember 2025
- Surat Untuk Ibu - 31 Desember 2025






