Menu

Mode Gelap
Call Article Paper Special For National Education Day! Kartini Masa Kini: Kolaborasi untuk Indonesia Mandiri dan Maju Wanita dan Profesi Akuntansi: Antara Peluang, Tantangan, dan Inovasi di Era Global Kartini Masa Depan : Inovasi, Kesetaraan, dan Kemandirian Selamat Hari Pendidikan Nasional 2025✨

Berita dan Artikel · 31 Des 2025 20:58 WIB ·

Kasih Cinta Tulus Ibuku


 Kasih Cinta Tulus Ibuku Perbesar

Tulisan ini dibuat ketika aku berada di semester akhir kuliah. Mungkin ceritaku ini akan terkesan berputar-putar karena aku sejatinya bukan seorang penulis, tapi aku berharap orang-orang tahu betapa hebatnya ibuku. Aku berasal dari suatu daerah yang mungkin tidak banyak orang tahu dan kebetulan aku rumahku jauh dari perkotaan. Dulu sewaktu kecil ibuku selalu meminta aku untuk melakukan A, B, C, membandingkan aku dengan si P, Q, R, dan sering memarahiku. Dulu sewaktu kecil aku ibaratkan ibuku adalah monster. Aku selalu kesal dan sempat suatu ketika aku mendoakan hal buruk pada ibuku.

Aku yang dulu selalu diburu-buru kalau mau berangkat sekolah, selalu disuruh ini itu rasanya sangat memuakkan. Sempat aku berpikir “apa aku ini bukan anak orang tuaku? Anak siapa kira-kira aku ini? Enak sekali jadi si Y dibebaskan untuk apapun”. Aku juga orang yang cengeng jadi setiap kali terlintas pikiran itu, aku selalu menangis. Tapi aku bersyukur dulu semasa SMP aku selalu diberi izin untuk melakukan aktivitas lain di luar sekolahan dengan catatan tidak boleh keluar malam. Aku tidak mempermasalahkan hal tersebut karena memang aku bukan anak yang suka keluar malam. Dulu waktu malam kuhabiskan dengan bersantai dan nonton tv. Di situ ibuku pasti cepat sekali tertidur. Aku tidak berpikir betapa letihnya ibuku dari pagi hingga malam. Aku tidak merasakan apa yang dirasakan ibuku karena dulu aku masih sering tidak suka dengan perlakuan ibuku. Hingga tiba waktunya aku SMA, aku selalu dibawakan bekal ibuku padahal dulu aku harus berangkat pagi-pagi karena sekolah tergolong jauh dari rumah. Aku sadar bahwa ibuku orang yang rajin bangun pagi dan pasti sudah menyiapkan sarapan sebelum aku berangkat sekolah bahkan membawakan aku bekal. Aku senang sekali karena teman-temanku hanya sedikit yang seperti aku.

Sampai suatu ketika saatnya aku memasuki masa kuliah. Sempat disarankan untuk kuliah di tempat yang tidak jauh dari rumah, tapi aku tetap bersikeras untuk memilih universitas pilihanku. Dan pada akhirnya, aku diterima di universitas pilihanku. Karena letak kampus yang terbilang jauh dari rumah aku memilih untuk kos. Pada awal persiapan kos aku bahagia saja, sempat terpikir juga “ini mungkin salah satu caraku tidak disuruh-suruh lagi, tidak dimarah-marahi lagi”. Hingga waktunya tiba, orang tua dan beberapa keluargaku mengantarku ke kos. Selepas mereka pulang, air mata tak bisa kubendung. Rasanya sepi, ngga enak, dan mau pulang. Hingga berhari-hari rasa sedih itu masih aku rasakan. Tapi aku kembali pada tujuan utamaku aku memilih untuk kuat.

Baca Juga  SELAMAT HARI ULANG TAHUN RUMAH BACA HIKMAH NUR BETING YANG KE-2TH

Hari demi hari kujalani, tak bisa dipungkiri rindu selalu ada. Momen videocall orang rumah adalah momen indah setiap minggunya. Tak ada yang tau sesaat setelah videocall mati aku menangis tersedu-sedu. Aku mengingat betapa nakalnya aku dulu, betapa sakit ibuku dulu ketika melihat aku membangkang. Setiap aku melihat video di sosial media mengenai orang tua terutama ibu aku selalu menangis dan berdoa pada Allah untuk selalu menjaga kedua orang tuaku. Sampai akhirnya aku berpikir “aku sudah dewasa, aku tak menyangka ibuku yang mendidikku sekuat ini. Dulu aku ditempa dengan hal-hal yang tidak aku inginkan. Tapi ternyata sekarang aku memang membutuhkan hal itu. Mau jadi apa aku dulu tanpa didikan keras ibuku? Apa aku bisa menjalani hidup yang amat sangat beda dengan keadaan di rumah tanpa didikan keras ibuku?”. Aku makin merasa aku adalah anak beruntung yang dikaruniai orang tua lengkap, sehat dan sayang anaknya, yang ternyata fakta yang aku tau setelah kuliah banyak diantara teman-temanku yang keluarganya broken home, kurang kasih sayang orang tua, dan lain-lain. Hingga makin hari aku semakin sadar bahwa pelajaran hidup yang diberikan ibuku sangatlah berarti, apalagi aku juga seorang perempuan yang pastinya nanti akan menjadi seorang ibu rumah tangga.

Aku semakin ingat dulu cerita ibuku, beliau merelakan tidak melanjutkan sekolah ke jenjang SMA karena masalah ekonomi dan memilih untuk bekerja di tanah rantau. Perjuangan ibuku lebih besar daripada aku. Aku balik lagi ke situasi sekarang, bagaimana seorang manusia seorang perempuan yang seperti ibuku bisa mendidik aku menjadi manusia sekuat ini, amalan apa yang diperbuat ibuku dulu hingga menjadi anak-anaknya kuat seperti ini, seberapa lama sujudmu hingga menjadikan hari-hariku tak lagi sengsara, bagaimana kau merayu Allah hingga aku bisa berdiri kokoh hingga hari ini. Sejak saat itu, aku sangat menyesali pikiran buruk tentang ibuku, omongan buruk tentang ibuku dan perbuatan nakalku dulu. Aku selalu menangis di kala mengingat bagaimana nakalnya aku dulu. Aku selipkan doa di sela-sela aku menangis, aku selalu berdoa agar ibuku sehat, kuat, dan masih bisa melihat aku sukses nanti. Senyumnya tak akan aku biarkan luntur. Tangisnya tak akan aku ijinkan jatuh barang setetes.

Baca Juga  Sosok Pemimpin

Setiap ada kesempatan pulang ke rumah, aku selalu mengusahakan untuk bantu ibuku dan selalu meminta perhatian ibuku. Sayangnya aku masih tergolong gengsi untuk mengungkapkan betapa sayangnya aku pada ibuku, betapa rindunya aku kala sendiri di tanah rantau. Karena bagaimanapun indahnya di tanah rantau, aku akan selalu memilih hidup di rumahku sendiri bersama orang-orang tercinta.

Ibuku yang mengajariku berbicara tidak pernah mengajarkan aku berbicara kotor dan itu aku lakukan sampai sebesar ini, di tengah pergaulan anak muda yang tak luput dari berkata kotor. Ibuku yang mengajariku berjalan, membimbingku berjalan hingga hari ini. Ibuku mengajarkanku untuk tak pantang menyerah dan selalu mengingat Allah. Ibuku yang dulu rela terjaga siang dan malam dengan aku, sekarang akan kujaga dengan sepenuh hatiku. Tulusnya cinta ibuku yang menjadikanku pribadi penyayang sekaligus tangguh yang tak takut menjadi hari-hari berat. Jasanya memang tak bisa kuganti dengan apapun, tapi aku berharap aku tak lagi mengecewakannya dan tak ada lagi bantahan akan perintahnya.

Aku semakin ingin seperti ibuku bahkan lebih dari ibuku. Ibuku akan selalu jadi motivasiku untuk bangkit dan berjuang. Senyum ibuku adalah hadiah terindah disetiap pulangku. Hingga harapanku nanti bisa mewujudkan apapun impian ibuku.

Aku juga ingat bahwa doa ibu adalah salah doa yang akan cepat terkabul. Maka dari itu, di setiap langkahku aku selalu memohon restu ibuku. Aku akan selalu sayang ibuku. Ibu… Tunggu anakmu sukses ya… Nanti ibu nikmati masa tuanya dengan tenang ya bu… Aku yang akan mengusahakannya bu… Tunggu aku… Tunggu janjiku menjadi hadiah bagimu… Bagi seluruh ibu di dunia ini, tetap sehat, tetap kuat, tetap bahagia, terima kasih telah berjuang sampai detik ini. Semoga Allah selalu memberi pertolongan. Percayalah semua akan baik-baik saja selagi masih ada IBU.

 

Nama: Anita Khoiru Nisa

Penulis adalah Mahasiswa UNS

Facebook Comments Box
Fajar Wahyu
Latest posts by Fajar Wahyu (see all)
Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Ziarah Makam dan Harapan Kaum Marginal

18 Maret 2026 - 22:11 WIB

Ramadan: Bulan Kepedulian dan Persaudaraan

28 Februari 2026 - 09:50 WIB

Ramadahan Asik, Fokus Ibadah Untuk Meraih Berkah

28 Februari 2026 - 09:17 WIB

VERSI-KU DI 2026

29 Januari 2026 - 11:31 WIB

Tahun 2026 Kuatkan Semangat Berkarya

29 Januari 2026 - 11:24 WIB

Yuk Menulis Tips Hadapi Tantangan 2026

21 Januari 2026 - 12:03 WIB

Trending di Berita dan Artikel