Menu

Mode Gelap
Pembina Rumah Baca Hikmah Nur Beting dan TBM Ar-Rahmah Sampaikan Ucapan Hari Kartini 2026 Call Article Paper Special For National Education Day! Kartini Masa Kini: Kolaborasi untuk Indonesia Mandiri dan Maju Wanita dan Profesi Akuntansi: Antara Peluang, Tantangan, dan Inovasi di Era Global Kartini Masa Depan : Inovasi, Kesetaraan, dan Kemandirian

Berita dan Artikel · 27 Sep 2025 08:00 WIB ·

MAWAR, BUKAN NAMA SEBENARNYA


 MAWAR, BUKAN NAMA SEBENARNYA Perbesar

(Utomo Gunawan)

Angin malam Jakarta terasa pahit, menampar Mawar yang sedang menunggu di tepi

jalan. Di bawah kerlap-kerlip lampu neon yang berisik, ia berdiri, siluetnya membaur dengan bayangan gedung-gedung tinggi. Mawar. Nama yang ia pilih sendiri, seperti bunga yang melambangkan keindahan dan kerapuhan. Namun, juga duri yang melindungi. Nama aslinya, Rini, sudah ia buang jauh-jauh, terkubur bersama impian

masa kecilnya di sebuah desa kecil di kaki Gunung Lawu.

Malam itu, Mawar mengenakan gaun merah ketat yang sudah agak lusuh.

Rambutnya disanggul tinggi, menampakkan leher jenjangnya yang dihiasi kalung

imitasi. Wajahnya dipoles tebal, berusaha menyembunyikan lelah yang menumpuk

di matanya. Ia sudah hafal betul dengan rutinitas ini: menanti, menawar, lalu

mengikuti. Setiap langkah adalah transaksi, setiap senyum adalah topeng.

Seorang pria paruh baya dengan mobil mewah berhenti di depannya. Pria itu

menuruti Mawar masuk. Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan. Hanya

keheningan yang menyesakkan, dipenuhi aroma parfum mahal dan asap rokok. Di

dalam kamar hotel, Mawar bergerak mekanis. Ia sudah terlalu sering melakukan ini,

hingga rasanya seperti sebuah koreografi yang hampa. Pria itu pun sama, tak ada

kontak mata, hanya sentuhan yang dingin. Selesai, pria itu meletakkan beberapa

lembar uang di meja. Mawar mengambilnya, menghitungnya, lalu pergi tanpa sepatah kata pun.

Ia berjalan di trotoar yang basah, menuju kamar sewaannya yang sempit. Lampu-lampu kota mulai redup, dan Mawar merasa lebih lelah dari biasanya. Ada sesuatu yang kosong di dadanya, seperti lubang hitam yang terus menggerogoti. Ia merindukan Rini, gadis yang dulu suka membaca puisi di bawah pohon mangga, yang bermimpi menjadi guru bahasa Indonesia. Namun, Rini sudah lama mati, terkubur di bawah tumpukan utang orang tua, janji palsu dari seorang agen pencari kerja, dan kenyataan kejam yang menghantamnya di ibu kota.

Di kamar, Mawar membuka tasnya. Uang yang didapatnya malam ini akan

dikirimkan ke kampung. Untuk biaya pengobatan bapaknya, untuk sekolah adiknya.

Ia tidak pernah memberitahu mereka pekerjaannya yang sebenarnya. Kepada

keluarganya, Mawar adalah seorang pramuniaga di toko pakaian. Kebohongan yang ia rawat dengan hati-hati, sebagai satu-satunya cara untuk tetap terhubung dengan

mereka tanpa menodai nama keluarganya.

Pagi menjelang, dan Mawar mencoba melepaskan peran Mawar. Ia mandi,

membersihkan sisa-sisa riasan, dan mengganti pakaiannya dengan kaus oblong dan celana longgar. Ia kembali menjadi Rini.

Baca Juga  PEMENANG 1, LOMBA CERPEN TINGKAT ANAK-ANAK DALAM RANGKA HUT KE-80 RI YANG DIGELAR RUMAH BACA HIKMAH NUR BETING

Meskipun hanya untuk sementara, ia bisa bernapas lebih lega. Ia membuat secangkir kopi, lalu duduk di jendela yang menghadap gang sempit. Di sana, ia bisa melihat anak-anak bermain, ibu-ibu berbelanja, dan kehidupan normal yang tidak pernah ia miliki.

Suatu hari, Mawar bertemu dengan seorang wanita tua bernama Bu Siti. Bu Siti adalah penjual nasi uduk di depan gang. Awalnya, Mawar hanya membeli nasi uduknya. Namun, Bu Siti ramah. Ia selalu menyapa Mawar dengan senyum hangat dan menanyakan kabarnya. Perlahan, Mawar mulai membuka diri. Ia bercerita tentang keluarganya, tentang mimpinya yang hancur, tapi ia tidak pernah berani jujur tentang pekerjaannya.

Bu Siti adalah sosok ibu yang tidak pernah ia miliki. Ia mendengarkan cerita Mawar dengan sabar, tanpa menghakimi. Bu Siti mengerti, ada luka yang dalam di balik mata Mawar. Suatu sore, saat Mawar sedang makan di warung Bu Siti, ia melihat seorang anak laki-laki sedang membaca buku. Anak itu bernama Daffa, cucu Bu Siti.

Daffa adalah anak yang cerdas. Ia suka membaca dan bercerita. Mawar terpesona.

Di hadapan Daffa, ia merasa bisa menjadi Rini yang dulu, Rini yang menyukai buku

dan kata-kata.

Mawar mulai sering datang ke warung Bu Siti. Ia membawa buku cerita untuk Daffa, dan mereka sering membaca bersama. Mawar membaca dengan penuh perasaan, dan Daffa mendengarkan dengan antusias. Malam hari, Mawar kembali menjadi Mawar. Ia berdiri di jalanan, menjual dirinya. Pagi hari, ia kembali menjadi Rini, membaca buku untuk Daffa. Dua dunia yang berbeda, dua identitas yang saling bertentangan.

Suatu malam, Mawar menunggu di sebuah bar. Seorang pria datang

menghampirinya. Pria itu tampak berbeda, matanya tidak hanya menelusuri tubuhnya, tetapi juga menatap matanya. Ia adalah seorang penulis. Ia ingin membuat cerita tentang kehidupan di jalanan. Mawar menolak. Ia tidak ingin kehidupannya yang kotor dijadikan cerita. Namun, pria itu tidak menyerah. Ia terus datang, dan akhirnya, Mawar luluh.

Mawar menceritakan kisahnya. Ia bercerita tentang Rini, tentang mimpinya, tentang keluarga, dan tentang kenyataan pahit yang memaksanya menjadi Mawar. Pria itu mendengarkan dengan saksama. Ia tidak menghakimi, ia hanya mendengarkan.

Melalui pria itu, Mawar merasa didengarkan, dihargai sebagai manusia. Mawar mulai menemukan kembali dirinya yang hilang, Rini yang ia kira sudah mati.

Suatu pagi, Mawar menerima kabar dari kampung. Bapaknya meninggal. Dunia

Baca Juga  Rayakan Hari Jadi ke-254, Rumah Baca Hikmah Nurbeting Gelar Lomba Pantun dan Video Pendek

Mawar runtuh. Ia tidak bisa pulang, ia tidak bisa mengubur bapaknya dengan tangan sendiri. Rasa bersalah dan penyesalan membanjirinya. Ia merasa gagal. Ia telah mengorbankan segalanya. Namun, tetap tidak bisa menyelamatkan bapaknya.

Mawar berada di titik terendah dalam hidupnya. Ia ingin berhenti, tetapi tidak tahu harus ke mana. Ia merindukan kampung halaman, tapi takut kembali. Di tengah keputusasaan itu, Bu Siti datang. Ia memeluk Mawar erat. “Kamu tidak sendirian, Nak,” bisik Bu Siti. “Hidup ini tidak selalu adil. Namun, kamu harus terus berjuang. Jangan biarkan masa lalu menghancurkan masa depanmu.”

Kata-kata Bu Siti bagai air dingin di tengah padang pasir. Mawar menangis. Ia menceritakan semuanya. Bu Siti memeluknya, dan tidak ada penghakiman. Hanya penerimaan. Bu Siti dan Daffa adalah pelabuhan Mawar. Mereka memberinya harapan, mereka membuatnya merasa berharga.

Mawar memutuskan untuk berhenti. Ia ingin mencari pekerjaan lain. Ia mulai bekerja paruh waktu di warung Bu Siti, membantu melayani pelanggan, dan mengurus Daffa. Ia masih Mawar yang sama, tetapi ia tidak lagi menjual dirinya. Ia menjual nasi uduk, ia menjual senyum tulus, ia menjual kata-kata yang menyejukkan. Ia tidak kaya, tetapi ia bahagia. Ia bisa membaca buku lagi, ia bisa menulis puisi lagi.

Ia memang belum menjadi guru bahasa Indonesia, tapi ia menjadi guru bagi dirinya sendiri. Ia belajar untuk memaafkan dirinya, untuk menerima masa lalunya, dan untuk membangun masa depan yang baru. Mawar, bukan nama sebenarnya, kini menemukan arti namanya yang sejati. Ia adalah bunga yang indah, dengan duri yang melindungi tetapi juga keharuman yang menenangkan.

Ia memang tidak lagi utuh, tetapi ia belajar untuk mencintai serpihan-serpihan dirinya. Karena Mawar tahu, setiap serpihan itu adalah bagian dari dirinya, bagian dari kisah hidupnya yang panjang, yang berliku, tetapi penuh makna.

Editor: Juniawati

Tim Web:

Monallisa

Nanda Meilisa Fitri

Uray Ega Nanda Rianti

 

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 30 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Sibuk tapi Skripsi Tetap Jalan Bahkan Dapat Mengembangkan Diri. Ini Tips Viral Ala Mahasiswa

27 Mei 2026 - 22:23 WIB

Kunjungan dan Kerja Sama Program TBM Ar-Rahmah dan TBM Kampung Baca Tansal

27 Mei 2026 - 21:59 WIB

Ingin Tahu Apa Saja Karakter Dasar Seorang Pemimpin? Berikut 3 Arahan dari Ibnu Khaldun

25 Mei 2026 - 08:49 WIB

Selamat dan Sukses Sidang skripsi Monallisa

21 Mei 2026 - 15:54 WIB

Selamat dan Sukses Sidang Skripsi Nanda Melisa Fitri

21 Mei 2026 - 15:38 WIB

Bersama Perempuan Majukan Bangsa: Transformasi Peran Perempuan Dalam Pembangunan Ekonomi dan Digital Indonesia

8 Mei 2026 - 18:07 WIB

Trending di Berita dan Artikel