(Yulia)
Aku seorang perempuan. Seorang istri, seorang ibu, dan seorang pengajar di sebuah Perguruan Tinggi di Pontianak. Dalam hidup yang penuh peran ini, aku menemukan satu benang merah yang menyatukan semuanya yaitu pengabdian untuk Kartini-Kartini kecilku.
Dua Kartini kecil, yaitu mahasiswa di kampus dan anak-anak di rumah. Di kampus, berhadapan dengan mahasiswa datang dengan beragam latar belakang yang berbeda, dengan harapan dan keresahan yang sering tak terucap. Tugas yang tidak ringan, sebab bukan hanya menjadi pengajar, tapi juga pendengar, penyemangat, dan penunjuk jalan. Menanamkan kepercayaan bahwa perempuan bisa berpikir, berkarya, dan memimpin. Merekalah yang akan tumbuh membela negara tercinta ini.
Jika di kampus, mengajar dan membimbing mahasiswa, di rumah peran menjadi ibu, mendidik anak-anak dengan cinta. Sebagai ibu bukan berarti berhenti berkarya, dan berkarier tidak berarti melupakan keluarga. Mengajar dan mendidik dilakukan dengan penuh semangat, agar mereka beriman, cerdas, dan tangguh. Namun perjuangan tak jarang dibayang-bayangi lelah dan keterbatasan.
Tak ada yang sempurna. Kadang lalai, kadang terlalu lelah untuk mendengarkan dengan sabar, tapi lantaran percaya bahwa cinta seorang ibu tak pernah habis. Cinta itulah yang menjadi bahan bakar perjuangan Kartini dan semangat itu kuwariskan.
21 April 2025, mengingatkan perjuangan Raden Ajeng Kartini yang bukan hanya simbol emansipasi perempuan Indonesia, tetapi juga gambaran nyata dari keberanian, kecerdasan, dan ketulusan seorang perempuan yang ingin bangsanya maju. Semangat Kartini adalah semangat pembebasan yang tidak menuntut kesetaraan dalam bentuk konfrontasi, melainkan melalui jalan ilmu pengetahuan dan pendidikan.
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan anak laki-laki dalam hidupnya, tetapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar bagi kaum perempuan agar dapat menjalankan kewajibannya yang diserahkan alam sendiri menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
(Kartini, 2004, dalam surat kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902)
Warisan terbesar Kartini bukan hanya sekolah atau lembaga, tetapi kesadaran. Kesadaran bahwa perempuan punya potensi, punya hak, dan punya kewajiban untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Semangat itulah yang terus menyala hingga kini, di rumah, di kelas, di kantor, dan di ladang dari Sabang sampai Merauke.
Perjuangan ini memang tidak mudah. Tak sehebat Kartini. Namun, dengan mengingat bagaimana Raden Ajeng Karini berjuang di tengah pingitan perempuan di masa itu, mesti kembali pada tujuan dari perjuangan yaitu membantu perempuan di kampus dan anak-anak di rumah, menggapai cita-cita mereka.
Momentum hari Kartini, adalah untuk memastikan semangat itu tetap hidup dalam tindakan kita hari ini. Tetap menjaga semangat dalam melanjutkan perjuangan Kartini. Mempersembahkan waktu, tenaga, dan perjuangan untuk para Kartini kecil tumbuh, agar kelak mereka bisa berdiri tegak. Semoga Kartini-Kartini masa depan, melanjutkan perjuangan ini, dan menjadi cahaya di manapun berada. Amin. (Penulis merupakan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Pontianak.
Editor: Juniawati
Tim Web:
Monallisa
Nanda Meilisa Fitri
Pajar Wahyudi
- Sibuk tapi Skripsi Tetap Jalan Bahkan Dapat Mengembangkan Diri. Ini Tips Viral Ala Mahasiswa - 27 Mei 2026
- Ingin Tahu Apa Saja Karakter Dasar Seorang Pemimpin? Berikut 3 Arahan dari Ibnu Khaldun - 25 Mei 2026
- Lebaran Sastra Silaturahim Literasi Tahun 2026/1447 H: Ajang Berkumpulnya Sastrawan Kalbar - 19 April 2026






