Menu ✖

Mode Gelap
Pembina Rumah Baca Hikmah Nur Beting dan TBM Ar-Rahmah Sampaikan Ucapan Hari Kartini 2026 Call Article Paper Special For National Education Day! Kartini Masa Kini: Kolaborasi untuk Indonesia Mandiri dan Maju Wanita dan Profesi Akuntansi: Antara Peluang, Tantangan, dan Inovasi di Era Global Kartini Masa Depan : Inovasi, Kesetaraan, dan Kemandirian

Uncategorized · 28 Okt 2026 12:36 WIB ·

Internalisasi Nilai Moderasi Beragama dalam Interaksi Sosial Antar Tetangga


 Internalisasi Nilai Moderasi Beragama dalam Interaksi Sosial Antar Tetangga Perbesar

Indonesia adalah rumah bagi keberagaman. Negera ini mengakui enam agama resmi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) hasil sensus penduduk tahun 2010, Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa. Selain itu, berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), terdapat 718 bahasa daerah yang telah teridentifikasi dan terpetakan. Namun, keberagaman tidak otomatis melahirkan kerukunan. Keberagaman ini harus terus dirawat, dan tempat paling nyata untuk merawatnya bukanlah di ruang seminar atau forum akademis, melainkan di lingkungan terdekat kita, yaitu rumah dan tetangga di sekitarnya.

Ketika ada tetangga nonmuslim yang sedang sakit, kita tetap dianjurkan untuk menjenguknya tanpa memperhatikan apa pun agamanya. Ini adalah wujud empati yang sangat bernilai. Kunjungan singkat, doa menurut keyakinan masing-masing, atau sekadar membawakan makanan sudah cukup membuat orang yang sakit merasa tidak sendirian.

Di sinilah moderasi beragama bekerja secara nyata. Kita tidak perlu menyamakan cara berdoa untuk saling mendoakan kesembuhan. Kita hanya perlu hadir dan peduli. Banyak hubungan antar tetangga menjadi jauh lebih hangat justru setelah saling menjenguk di masa sulit.

Begitu juga ketika kita menghadiri undangan tetangga, baik undangan pernikahan, syukuran, maupun perayaan hari besar keagamaan, ini adalah bentuk kepercayaan dan keterbukaan. Menghadirinya berarti menghargai niat baik tuan rumah. Sikap ini sering dipertanyakan tetapi pada hakikatnya ketika hadir di acara sosial tetangga bukan berarti dengan ikut dalam ritual ibadahnya. Kita bisa menjaga batas keyakinan kita sendiri sambil tetap hadir sebagai tamu yang menghormati.

Baca Juga  Ucapan Selamat Ulang Tahun RB-HNB Oleh Pembina Rumah Baca Hikmah Nur Beting

Saling hadir seperti ini memperlihatkan bahwa kita bisa berbeda tanpa harus berjarak. Mereka juga memahami batas halal dan haramnya makanan yang akan disajikan untuk kita yang beragama islam.

Moderasi beragama sering dipahami sebagai konsep besar yang abstrak. Padahal intinya sederhana yaitu beragama dengan sungguh-sungguh tanpa berlebihan, teguh pada keyakinan sendiri serta menghormati keyakinan orang lain. Nilai ini baru bermakna jika benar-benar hidup dalam berperilaku sehari-hari, dan salah satu wadah terbaiknya adalah interaksi antar tetangga.

Segala sesuatu berawal dari rumah. Keluarga adalah madrasah pertama bagi seorang anak dimana tempat ia pertama kali belajar tentang benar dan salah, baik dan buruk, serta cara memandang orang lain. Sikap moderat tidak lahir secara tiba-tiba di bangku sekolah atau kampus. Ia ditanamkan sejak dini melalui ucapan dan teladan orang tua.

Anak yang mendengar orang tuanya merendahkan tetangga karena berbeda agama akan tumbuh dengan prasangka. Sebaliknya, anak yang melihat orang tuanya menyapa ramah tetangga yang berbeda keyakinan akan belajar bahwa perbedaan bukan ancaman. Orang tua perlu menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa setiap orang berhak meyakini dan menjalankan agamanya. Kita boleh berbeda dalam beribadah tetapi tetap sama sebagai manusia dan sesama warga. Konsep menghormati bukan berarti mencampur adukkan keyakinan. Keteladanan jauh lebih kuat daripada nasihat. Anak lebih mudah meniru apa yang ia lihat daripada apa yang ia dengar. Di lingkungan keluarga inilah, langkah nyata kita mencegah generasi yang radikal.

Baca Juga  Mahasiswa KPI 5C mengikuti pelatihan Fotografer

Islam mengajarkan kita tentang toleransi kepada tetangga. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Alquran: ” Janganlah kamu memaki (sesembahan) yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa (dasar) pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S Al-An’am Ayat 108).

 

Profil Penulis

Jugiana adalah mahasiswa jurusan Magister Ekonomi Syariah di IAIN Pontianak. Dengan Hobi traveling sehingga merasakan setiap tempat punya pesona alam dan cerita tersendiri. Jugiana Memiliki Motto hidup “Berbuat baiklah, sebab pada akhirnya hanya kebaikan yang akan terus dikenang”. Komitmennya teruslah belajar, karena dunia begitu luas.

 

Editor: Juniawati

Tim Web: Monallisa, Uray Ega Nanda Rianti, Nanda Meilisa Fitri.

 

 

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 56 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Cerita Liburan Kemarin

20 Juni 2026 - 20:42 WIB

Batin

27 September 2025 - 08:07 WIB

Jerita Jiwa

27 September 2025 - 08:04 WIB

Yuk Menulis Edisi “Tema Bebas” Bersama Rumah Baca Hikmah Nur Beting

10 September 2025 - 14:15 WIB

Ucapan Selamat Ulang Tahun RB-HNB Oleh Pembina Rumah Baca Hikmah Nur Beting

7 September 2025 - 20:55 WIB

Ucapan Selamat Ulang Tahun RB-HNB Oleh Ketua Rumah Baca Hikmah Nur Beting

7 September 2025 - 20:47 WIB

Trending di Uncategorized