Menu ✖

Mode Gelap
Pembina Rumah Baca Hikmah Nur Beting dan TBM Ar-Rahmah Sampaikan Ucapan Hari Kartini 2026 Call Article Paper Special For National Education Day! Kartini Masa Kini: Kolaborasi untuk Indonesia Mandiri dan Maju Wanita dan Profesi Akuntansi: Antara Peluang, Tantangan, dan Inovasi di Era Global Kartini Masa Depan : Inovasi, Kesetaraan, dan Kemandirian

Berita dan Artikel · 21 Okt 2026 12:04 WIB ·

Secangkir Toleransi di Meja Warkop Pontianak


 Secangkir Toleransi di Meja Warkop Pontianak Perbesar

 

Oleh: Zaki Mahasiswa S2 Magister Ekonomi Syariah, Pascasarjana IAIN Pontianak

 

 

Kalau ada satu tempat di Pontianak yang bisa menyatukan semua orang tanpa memandang suku, agama, atau isi dompet, tempat itu pastilah warung kopi (warkop). Di Kota Khatulistiwa ini, ngopi bukan lagi sekadar hobi, melainkan sudah menjadi gaya hidup yang mendarah daging. Menariknya, di tengah ramainya obrolan soal intoleransi atau perpecahan di media sosial, warkop-warkop kita justru menjadi contoh nyata bagaimana indahnya hidup berdampingan. Di atas meja warkop inilah sikap beragama yang damai dan seimbang dipraktikkan langsung setiap hari tanpa perlu teori yang muluk muluk.

Pontianak adalah kota yang sangat kaya akan keberagaman. Di sini ada suku Melayu, Dayak, Tionghoa, Jawa, Madura, Bugis, dan banyak lagi. Agamanya pun bermacam-macam. Kita tahu Kalimantan Barat punya cerita sejarah masa lalu yang tidak mudah soal hubungan antarsuku. Namun hari ini, masyarakat Pontianak sudah sangat dewasa dalam menjaga kedamaian. Hebatnya, tempat terbaik untuk belajar saling menghargai ini bukan di ruang kelas atau gedung seminar, melainkan di ratusan warkop legendaris kota pontianak salah satunya seperti Warung Kopi Suka Hati di kawasan Jalan Tanjungpura.

Saat kita melangkah masuk ke Warkop Suka Hati, suasana ruko tua yang otentik langsung menyambut kita. Di tempat itu, semua perbedaan seolah ditinggalkan di tempat parkir. Di dalam warkop, status semua orang sama tanpa perbedaan yaitu sama-sama penikmat kopi. Tidak heran jika kita melihat seorang pejabat duduk satu meja panjang dengan pekerja bangunan, Dosen berbincang dengan Mahasiswanya, Orang tua dengan anaknya, warga keturunan Tionghoa mengobrol akrab dengan warga Melayu dan Dayak. Mereka duduk berdekatan, disatukan oleh menu legendaris yang sama, secangkir kopi hitam, kopi susu hangat ditemani pisang goreng selai srikaya yang enak.

Baca Juga  Dr. Hesty Nurrahmi, M.Pd.: Mendedikasikan Ilmu dan Pengalaman untuk Kemajuan Bangsa dan Agama
ilustrasi situasi warkop suka hati pontianak

Di sinilah letak indahnya saling menghargai satu sama lain, Moderasi beragama itu sebenarnya simpel mengambil jalan tengah, tidak ekstrem, dan selalu mengutamakan rasa kemanusiaan. Di meja warkop hal ini terjadi secara alami. Contoh biasa yang sering kita lihat saat waktu salat tiba pengunjung Muslim akan pamit sebentar untuk ke musholla terdekat. Teman semeja yang non-muslim dengan senang hati akan menjaga tas atau sisa makanan rekannya itu. Tidak ada rasa canggung atau curiga yang ada hanya rasa saling pengertian yang sudah berjalan bertahun-tahun.

Selain tempat bersantai, warkop di Pontianak juga ampuh menjadi “penyejuk” di tengah panasnya berita hoaks yang selih berganti. Sekarang ini, media sosial sering kali dipakai untuk menyebar info palsu atau adu domba berbau SARA. Kalau kita telan mentah-mentah berita di internet, kita bisa mudah tersulut emosi. Namun di warkop berita-berita panas itu biasanya langsung dibahas secara santai berbincang dengan temannya. Seperti contoh percakapan yang biasa terjadi di warkop dengan nada melayu “eh kau ade liat ke berite terbaru di Instagram tentang masalah bla bla bla.. benar ke tadak tu? dengan logat melayu nya kawannya pun menjawab “osah kau pecayak merampot beritenye tu hoaks tu” sambil tertawa khas Pontianak, masalah yang tadinya tegang di media sosial tiba-tiba mencair begitu saja setelah diklarifikasi langsung dari hati ke hati di meja kopi.

Kebiasaan ngopi di tempat terbuka yang ramai juga membuat pikiran masyarakat jadi lebih luas. Orang yang sering nongkrong di warkop yang beragam tidak akan mudah kaget atau marah melihat perbedaan. Kita jadi terbiasa melihat orang lain yang berbeda cara berdoa, berbeda baju adat, atau berbeda pilihan politik. Warkop melatih kita untuk mau mendengarkan orang lain dan sadar bahwa kota Pontianak ini adalah rumah bersama bukan milik satu golongan saja.

Baca Juga  Program Divisi Anak di Rumah Baca: Membentuk Generasi Literat

Kementerian Agama saat ini memang punya program untuk menciptakan wilayah yang rukun dan damai. Di Pontianak, konsep itu sebenarnya sudah hidup lama di dalam warkop. Warkop adalah “ruang kerukunan” yang mandiri. Menariknya ruang ini berjalan sendiri atas modal kebersamaan warga tanpa perlu disuruh-suruh atau memakai anggaran pemerintah. Sifat asli orang Pontianak yang ramah dan suka bergaul adalah modal sosial yang sangat mahal harganya.

Tentu saja, kenyamanan ini harus kita jaga bersama. Pemilik warkop, anak muda, tokoh masyarakat, hingga pemerintah harus memastikan warkop tetap menjadi tempat yang aman bagi siapa saja. Jangan sampai ruang komunal seperti ini disusupi oleh kepentingan politik kotor yang suka memecah belah warga.

Kesimpulannya toleransi di Pontianak itu tidak berwujud teori di atas kertas. Ia nyata, membumi, beraroma harum, dan rasanya pahit manis seperti kopi saring tradisional. Selama warkop-warkop legendaris seperti Suka Hati masih penuh dengan warga yang saling menyapa dengan senyuman setiap pagi, kita bisa yakin bahwa kedamaian di kota ini akan terus terjaga. Mari kita jaga terus kebersamaan ini. Karena dari balik pekatnya secangkir kopi Pontianak, kita belajar melihat indahnya kedamaian dan pentingnya menghargai sesama manusia. Yuk, ngopi budak!

 


Editor: Juniawati

Tim Web:Monallisa,Uray Ega Nanda Rianti,Nanda Meilisa Fitri

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pro Kontra Misa Katolik di Kraton Pura Mangkunegaran Surakarta

20 Oktober 2026 - 11:54 WIB

Pontianak Tangguh Warga Bersahabat

20 Oktober 2026 - 11:00 WIB

RINDU

16 Oktober 2026 - 07:34 WIB

JEJAK LITERASI UNTUK INDONESIA YANG LEBIH BAIK  

16 Oktober 2026 - 07:29 WIB

Pontianak Tangguh Warga Bersahabat

8 Oktober 2026 - 10:58 WIB

Bunga Abadi

20 September 2026 - 10:35 WIB

Trending di Berita dan Artikel