(Uswatun Hasanah)
Pada dasarnya semua perempuan cantik, karena ia perempuan. Definisi kecantikan hanya ada pada perempuan, sedang laki-laki terlahir dengan paras ganteng.Jika ada laki-laki berperawakan perempuan atau perempuan mempunyai paras laki-laki itu hanya beberapa persen, tidak lumrah, dan itu tidak menghilangkan kodrat masing-masing. Tugas dan fungsinya tetap pada wujud aslinya.
Istilah cantik hanya milik perempuan, dan cantik itu relatif. Cantik menurut perspektif orang. Jadi kecantikan asal muasalnya adalah datang dari pandangan. Cantik tidak melulu wajah indah, kulit bening, dan aroma yang wangi. Cantik itu bukan tentang kesempurnaan fisik yang berambut hitam dan panjang, mata sayu dan pipi kemerah-merahan. Cantik tidak pula perempuan yang memiliki hidung mancung, bibir merah merekah atau bentuk wajah yang menawan, tangan gemulai dan suara yang lemah lembut, bukan juga karena memiliki bulu mata dan alis tebal, warna bola mata kecoklatan. Cantik bukan yang memiliki postur tubuh yang ideal dan tidak identik dengan suatu yang tampak, sesuatu yang terlihat atau sesuatu yang bisa kita raba dan kita rasa.
Perempuan adalah makhluk yang Allah Swt ciptakan secara sempurna dengan segala bentuk dan keunikannya. Perempuan dilahirkan untuk menjadi pendamping, diciptakan untuk menemani, menjadi tempat bersandar, tempat mencurahkan, kehadirannya tidak hanya sebagai pemuas nafsu tapi lebih tempat berlindung, mencari keamanan dan ketentraman. Perempuan yang sholeha adalah ia yang ketika dipandang membuat tentram dan tenang suaminya, begitulah pesan singkat Al-qu’an yang membahas banyak sekali tentang perempuan. Perempuan memiliki kemampuan yang luar biasa untuk bisa memberikan cinta kasih dan sayangnya kepada orang-orang di sekitarnya.
Perempuan oleh Allah Swt, telah diberikan kesempurnaan fisik, dibentuk cantik maka dari itu Allah meminta mereka menutup dirinya (kewajiban berjilbab, memakai hijab) hal ini tidak lain agar mereka terlindungi, dan terjaga kehormatannya. Jilbab sebagaimana diketahui tidak hanya berfungsi untuk menutupi tetapi identitas seorang muslimah. Dikatakan bahwa perempuan mukmin atau bukan dari cara ia berhijab.
Sejatinya setiap perempuan terlahir cantik, setiap perempuan memiliki kelebihan, setiap perempuan mempunyai banyak keahlian, kemampuan untuk berkarya, berdaya, berkembang untuk maju, untuk berkreasi, berinovasi.
Perempuan dan Batik
Perempuan di abad pertengahan berlomba dalam mengejar kedudukan, posisi dan strata sosial. Perempuan mencoba maju selangkah demi selangkah mengejar posisi sebanding dengan laki-laki. Perempuan zaman itu benar-benar hanya fokus untuk perbaikan. Mereka lebih suka menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan, sehingga di era kemerdekaan banyak lahir perempuan hebat, perempuan bermartabat, dan perempuan yang melewati batas “ wanita” mengejar laki-laki ,mereka menempuh pendidikan di berbagai jurusan, mengejar cita-cita serta memberi manfaat untuk sekitarnya.
Tidak ada kendala untuk perempuan menempuh mendidikan, meraih mimpi mengejar cita-cita, pendidikan bisa di dapatkan kapan dan di manapun dan oleh siapapun, tidak ada penghalang untuk perempuan bersuara, sehingga para perempuan abad pertengahan berlomba memosisikan dirinya setara dengan laki-laki. Keterwakilan perempuan di parlemen membuktikan bahwa perempuan bisa, dan persentase perempuan di ranah publik telah mencapai separuh dari laki-laki.
Perempuan dan Batik
Perempuan Indonesia, mempunyai keunikan tersendiri, ciri khas yang membedakan dengan perempuan-perempuan barat, yakni kulit coklat, sawo matang, hidung dan mata bulat, bentuk muka yang bervariasi dengan postur tubuh yang sedang. Perempuan Indonesia, memakai pakaian batik atau kebaya. Hal ini yang membuat para turis kerap berkunjung dan menyukai perempuan Indonesia, karena perempuan Indonesia memiki keunikan tersendiri. Terutama peran pentingnya dalam budaya Indonesia, yaitu menjaga budaya leluhur, yaitu batik dan kebaya sebagai pakaian adat dan pakaian tradisional. Batik juga sering digunakan dalam acara-acara penting seperti pernikahan, upacara adat, dan kegiatan sosial.
Peran wanita dalam pembuatan batik begitu besar, batik dalam pembuatannya dilakukan oleh sekelompok perempuan yang ahli dan mumpuni, dengan telanta tinggi. Hal ini menunjukkan keanggunan dan kekuatan perempuan. Begitupun dengan kebaya.
Dalam konteks pakaian perempuan, kebaya adalah baju atasan berlengan panjang yang sering dikenakan dengan kain panjang atau sarung. Kebaya biasanya memiliki bukaan di bagian depan dan sering dihiasi dengan bordiran, payet, atau motif lain untuk mempercantik tampilannya.
Kebaya sebagai atasan. Kebaya merupakan bagian atas dari busana, biasanya dipadukan dengan kain panjang atau sarung sebagai bagian bawah. Ciri khas kebaya adalah lengan panjangnya, yang memberikan kesan anggun dan sopan. Kebaya memiliki bukaan di bagian depan yang dapat diikat dengan kancing, peniti, atau bros.
Kebaya seringkali dihiasi dengan bordiran, payet, atau motif-motif lain untuk menambah keindahan dan keunikan. Selain sebagai pakaian, kebaya juga memiliki fungsi sosial dan budaya, sebagai simbol kesatuan dan kebanggaan perempuan Indonesia. Kebaya memiliki berbagai variasi model, mulai dari kebaya klasik hingga kebaya modern yang disesuaikan dengan tren terkini. Kebaya merupakan warisan budaya Indonesia yang perlu dilestarikan dan dihargai.
Perempuan dan Teknologi
Hari ini, perempuan di hadapkan dengan kecanggihan teknologi dan semakin pesatnya media, yang membuka akses perempuan untuk bisa mendapatkan berita di seluruh dunia sehingga tak sedikit yang kehilangan jati dirinya. Perlahan sebagian perempuan melupakan identitasnya sebagai perempuan timur dan melupakan batik atau kebaya.
Perempuan di akhir zaman terjajah oleh standar kecantikan, persaingan global dan membuat sebagian perempuan Indonesia mengalami pergeseran paradigma, kesenjangan, status sosial, dan perempuan Indonesia kehilangan identitas ketimurannya. Perempuan Indonesia terlebih remaja, seakan tidak lagi mengenali identitasnya. Mereka sudah tidak lagi membumikan tanah kelahiran akan tetapi membanggakan dunia luar. Idola dan panutan mereka adalah artis luar, seperti Korea, Jepang, Cina, Amerika dan lainnya.
Panutan mereka bukan lagi tokoh terpandang karena jasa atau pengabdianya kepada negara tapi pada wajah yang tampan, tinggi, putih berotot dan tampilan fisik lainnya, sehingga demi tampil paripurna perempuan kita berlomba dalam mempercantik dirinya, melepaskan tradisi leluhurnya.
Batik dan kebaya tidak lagi sebagai pakaian kehormatan, tidak lagi berfungsi menutupi jiwa raga perempuan, tidak lagi berfungsi sebagai identitas dan karakter perempuan ketimuran tapi lebih ke peragaan busana, ajang pamer. Batik dan kebaya tidak lagi mencerminkan perempuan ketimuran tapi ada sekat yang menjadi pemisah antar si kaya dan si miskin, antara yang berpendidikan dengan yang tidak, antara kelas atas dan bawah, antara pejabat dan yang bukan, antara orang kantor dan yang bukan, padahal sejatinya setiap perempuan seyogyanya memakai batik dan kebaya sebagai kebanggaan di setiap keseharianya. Namun, batik dan kebaya hanya dipakai untuk acara tertentu, momen tertentu. Sepatutnya memakai batik dan kebaya ini menjadi sebuah kebiasaan. Karena batik dan kebaya ciri khas perempuan Indonesia, dan tidak sekadar kain tapi menunjukkan bukti ciri khas perempuan Indonesia yang ramah, sopan, lemah lembut. Kain yang tidak hanya sekadar lembut tapi simbol perempuan bijaksana dan bersahaja. Kain, yang bukan sekadar pakaian adat, tapi esensi perempuan yang cerdas, bermartabat, dan berkualitas.
Inilah perempuan Indonesia yang memiliki ciri khas tersendiri dari setiap tempat mempunyai perbedaan tersendiri. Namun, baik dari tradisi, adat istiadat, warna kulit dan bahasa tidak membuat perempuan Indonsesia berbeda antara satu dengan yang lainnya tetapi tetap keangungan dan keunikan ada pada perempuan Indonesia yang mencintai prinsip gotong royong, kerjasama, saling menjaga dan melindungi. Ini adalah karakter perempuan Indonesia yang tidak hanya ramah dan baik tetapi bertutur kata lembut dan sopan santun. Bhennika Tunggal Ika, berbeda tapi tetap satu, bangsa Indonesia.
Perempuan Indonesia memiliki jiwa pekerja keras, pantang penyerah, solidaritas tinggi, meski bertubuh kecil, mungil tetapi tidak menyulitkan para perempuan untuk banting tulang. Sebagaimana perempuan zaman dahulu bekerja sambil mengurus dan mendidik anak-anaknya. Menjadi perempuan yang mengispirasi, berkarya untuk bangsa, tidak melepaskan kodrat dan tanggung jawab sebagai seorang ibu, istri, dan anak. Mereka berkorban jiwa raga untuk kesejahteraan keluarga dan sekitarnya, Namun, hal ini barangkali tidak berlaku dengan perempuan zaman sekarang, sebagian lebih suka memoles diri, mempercantik fisik, dan harus tampil beda karena tuntutan kerja, profesional. Istilahnya, ingin tampil beda.
Tak jarang kita temukan remaja perempuan, demi untuk sebuah penampilan lahir, ingin sama seperti idolanya. Mereka meniru gaya, cara bicara, penampilan “ _stylish_” pujaannya. Batik dan kebaya tidak lagi menutupi tubuh tapi mengikuti tren dan gaya kebarat-baratan, terbuka. Model yang tidak pantas dipakai perempuan ketimuran karena cenderung mencolok, ketat, yang tidak cocok dipakai perempuan. Namun, tuntutan model, keinginan orang tua atau remaja itu sendiri lalu memaksakan agar segala fasilitas terpenuhi. Akibatnya, demi gengsi remaja perempuan menghalalkan segala cara, tidak punya hati dan akalnya tidak berfungsi, hanya demi sebuah gaya hedon. Orang tua sering mendapat kecaman, makian bahkan kekerasan yang berujung kehilangan nyawa karena tuntutan anak-anaknya, _nauzubillah_.
Batik dan kebaya sudah tidak mencerminkan estetika tapi lebih ke gaya dan yang meng-_endorse_ artis mereka, sehingga tak sedikit menggeser pola pikir masyarakat menengah ke bawah, bahwa batik dan kebaya adalah baju dinas, padahal hakikatnya batik dan kebaya adalah pakaian perempuan Indonesia. Seharusnya dipakai dalam keseharian, simbol kehormatan dan natural.
Perempuan yang menjadi simbol perubahan, memiliki karakter yang memesona, berkualitas, dan kemampuan dalam berkarya, _personal branding_. Kecantikan alami yang terpancar dari perbuatan dan perkataan akan menjadi _value_ tersendiri bagi sebagian perempuan, mereka akan lebih menghargai, memakai dan menggunakan produk dalam negeri, olahan sendiri, mencintai produk lokal dan cenderung memperhatikan etika berpakaian perempuan ketimuran. Hal ini yang membuat perempuan tampak mahal.
Batik dan kebaya yang dipakai biasa saja, tetapi akan tampak mewah dan elegan jika dipakai perempuan yang memiliki hati lapang, jiwa sosial yang tinggi. Perempuan tampak anggun dan cantik sempurna jika dibalut dengan senyum ramah, _humble_. Perempuan yang memiliki aura bersahaja, tenang lembut dan berwibawa serta aura positif. Ini tampak dari cara bicara. Hal unik dan menarik dari perempuan karena tampilan luar mencerminkan sesuatu yang di dalam.
Inilah perempuan kita, seperti berlian dimanapun berada akan selalu bersinar, berkilau sekalipun berada di dalam lumpur.
Ini bukan hanya pembahasan pakaian tapi keduanya memiliki sisi yang tidak terpisahkan layaknya mata uang. Perempuan patut dinilai dan dihargai dengan tampilan luar dan pikiran, jiwa perempuan haruslah berilmu dan beriman, agar perempuan bisa di hormati, di hargai, dijaga dan dilindungi, bukan sebaliknya.
Maka jadilah perempuan mahal, bergayalah sesuai kemampuan dan berkaryalah sesuai dengan keahlian. Maka perempuan bisa menjadi benteng pertahanan.(Penulis: Pembina LPQ Al Ghazali dan Admint Bank Sampah)
Editor: Juniawati
Tim Web:
Monallisa
Nanda Meilisa Fitri
Uray Ega Nanda Rianti
- Sibuk tapi Skripsi Tetap Jalan Bahkan Dapat Mengembangkan Diri. Ini Tips Viral Ala Mahasiswa - 27 Mei 2026
- Ingin Tahu Apa Saja Karakter Dasar Seorang Pemimpin? Berikut 3 Arahan dari Ibnu Khaldun - 25 Mei 2026
- Lebaran Sastra Silaturahim Literasi Tahun 2026/1447 H: Ajang Berkumpulnya Sastrawan Kalbar - 19 April 2026






