(Uswatun Hasanah)
Mungkin inilah yang di sebut halusinansi tingkat tinggi, mengharap sesuatu yang tidak akan pernah mungkin terjadi, mungkin inilah yang di sebut hayalan tingkat dewa mengharap sesuatu yang tidak akan pernah mungkin nyata, Mingkin inilah yang di sebut dengan bertepuk sebelah tangan bagai pungguk merindukan bulan, Apalah artinya aku, siapalah aku, dan aku bukan siapa, siapa, Aku tidak akan mampu menggapaimu karena ku hanyalah sekian ribu sampah yang bertaburan di muka bumi ini, aku tidak akan mampu meraihmu karena aku hanyalah insan yang terbuang di ahir zaman, aku adalah serpiha debu yang berterbangan, aku adalah puing-puing kehidupan.
Aku tidak akan mampu untuk hanya bermimpi milihatmu, yahh,,melihatmu dari jauh karena ku hanyalah sepotong daging hina di rimbunnya masa, aku tidak akan mampu bersanding duduk denganmu, mencium telapak tanganmu… aah itu tidak akan mungkin terjadi, aku hanyalah aku si pendosa yang dosanya bak buih di lautan, aku hanyalah aku si kecil yang terpinggirkan dari sudut ketakwaan, aku hanyalah aku si kotor yang terkucil dari hingar bingarnya keduniaan, aku hanyalah aku yang terasing dari kesucian, aku hanyalah aku yang mengharap untuk berjumpa hanya untuk menyampaikan kata aku merindukaanmu tidak terbatas waktu.,aku merindukamu dalam sendiri, aku merindukanmu dalam sepi ,aku merindukanmu , apakah engkau menjawab salamku, apakah engkau mendengar panggilanku dan apakah engkau merasakan bahwa kerinduanku .
Bagaimana mungkin bisa aku mengharapmu datang sedang dalam jasadku tidak mampu menampung dosa yang ku pikul di badan. bagaimana mungkin bisa aku menghayalmu hadir sedang dalam diri penuh nafsu yang tidak mampu ku ukir, bagaimana mungkin aku bisa meraihmu sedang dalam keadaanku tidak ada waktu untuk berserah diri, ku terlalu angkuh dengan ibadahku, aku terlalu sombong dengan ketakwaanku, aku terlalu berbangga diri dengan segala amal baikku, aku adukan kepada siapa air mata yang menetes ini , ku adukan kepada siapa detak jantung yang berdebar ini sedang ketika di sebut namamu gemetar tubuhku sedang ketika ada yang bercerita tentangmu rindu ini mengajak bertemu..
Ada cemburu menanti, ada gelisah menghampiri, ada tanya mengetuk hati, apakah aku rindu padamu atau hanya perasaanku yang tidak menentu, biarlah cukup aku saja yang tau bahwa rindu ini mendekap erat tubuhku, bahwa rindu ini akan ku bawa kemana langkah kakiku melaju, akan ku bawa kemana restumu menyertaiku, menangis dalam diam suara isak tangis yang lirih ditemani suara jangkrik yang entah apa yang mereka musyawarahkan seakan semakin lengkap menambah irama malam, semilir angin yang sepoi sepoi datang menambah kesempurnaan proses penciptaan alam.
Aku masih terisak tertunduk dalam sajadah lusuh mengharap ingin tertemu denganmu, berjumpa denganmu, melihatmu dalam alam yang hanya kita saja yang tau, biarlah hati ini meratapi diri, masih dalam tangis yang tidak bisa ku mengerti, perlahan memaksakan diri bangun dan berdiri mematung melihat bintang bertaburan lalu kemudian bertanya,, mungkin mereka bisa membantu dalam bingungku atau paling tidak merasa apa yang terjadi denganku , mengapa aku merasa linglung, mengapa aku rasa bumi ini bergoyang. kemana aku harus berteriak, kepada siapa harus ku adukan segala rasa apa yang tengah minimpaku.
aku hanya ingin bertemu denganmu, bagaimana caranya, pertanyaan itu membuat otakku rasanya mau meledak, pertanyaan itu seakan menghimpit dadaku, dengan apa ku saksikan diri bahwa aku merindukanmu.
bintang diam, dan langitpun ikut terdiam, mengapa tidak satupun ada yang bisa menolongku, mengapa tidak ada satupun bintang bisa membantuku, kemana ku harus pergi, kemana harus kulabuhkan diri, masih dalam kondisi mematung berjam jam menatap langit, mengapa kalian tega kepadaku, tanyaku dalam hati, apakah kalian tidak pernah merindukan sesorang, dari jauh mereka tampa berkelip dan bersinar seakan mereka mau menjawab, kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengan seseorang yang kamu rindu karena kamu pendosa,, yaaah aku memang banyak dosa, aku memang tidak pantas untuk merindukanmu ya Rasulallah, aku memang tidak layak untuk mengharap dirimu datang wahai kekasih Allah.
Entah sampai putaran berapa tasbih yang masih melekat ditanganku, entah sampai kapan aku begini menangis dalam sepi, tertunduk lesu mencoba duduk dalam diam masih dalam ratapan panjang, masih dalam isak tangis yang semakin dalam, masih dalam keheningan, masih dalam suasana yang tidak menentu, angin sepoi datang silih berganti seakan mereka datang untuk menghiburku, entah jam berapa sekarang aku masih duduk terdiam, di temani langit yang ikut terdiam seakan menyatu dalam keheningan malam, masih dalam lidah kelu mencoba menyapamu, “ Assolatu wassalamu alaika ya Rasulallah” Assalamu alaina wala ala ibadillahis sholihin”, entah berapa kali aku memanggilmu, Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad, Assalamualaika ayyuhan nabiyu warohmatullahi waborakatuh”, tolong jawab salamku ya Rasulullah,, ku merasa tubuhku gemetar karena bumi bergoyang, Shollahu ala Muhammad,, tolong jawab salamku ya Rasulullah, tolong ya Allah sampaikan kepada kekasihmu aku rindu, air mataku dari tadi berlinang, mengapa aku seperti orang gila, kemana harus kuluahkan segala rasa, seakan tidak punya daya ku mencoba berdiri masih dalam lisan yang dari tadi tidak berhenti memanggilmu, “ Ya Rasulullah, Ya Habiballah, Ya Nabiyallah aku merindukanmu”, dalam diam, aku ingin berjumpa denganmu, aku tidak mampu berdiri dan tersungkur lagi dalam linangan air mata, menangis lagi dan lagi, mengapa aku seperti ini, angin masuk ke dalam mukennahku seakan menyuruhku untuk bangun, dinginnya masuk ketulang belulangku, aku masih dalam isyak tangis sebelum kurapatkan mukennah hidungku seakan tercium bunga aroamanya seakan berada di taman bunga, apa ini, kok harum bunga dimana, dimana, aku tersentak karena langsung menusuk hidung air mata langsung hilang, aku terperanjat, melihat sekitar ku masih berada di mushollah, angin semakin menorobos masuk hingga mukennahku terbuka semakin terbuka dan semakin aromanya masuk kedalam hidung, mataku berkunang belum jelas apa yang terjadi, ku coba berdiri melihat apa yang terjadi masih dalam suara lirih “ Allahumma sholli ala Muhammad, belum bisa mataku menatap, otakku belum sepenuhnya berfungsi dengan jelas karena aroma bunga di sekilingku, bulu kudukku langsung berdiri, apa yang terjadi, masih ku liat langit seperti yang tadi tapi bintang semakin bersinar dan langit begitu tampak cerah padahal ada ribuan bintang disana ya Allah ada apa, pertanyaanku belum bisa ku jawab aku merasa musholla ini ada yang mengangkat, mengapa sepertinya aku terbang, ada apa denganku, tiba tiba aku merasa takut, karena di sekelilingku tidak ada siapa siapa, mengapa angin menerobos masuk kedalam mukenahku dan mengapa ku rasa ada sesuatu yang aneh sedang terjadi denganku, aroma bunga itu masih ada dan di sekitarku tidak ada apa apa, perasanku yang tadi tidak menentu langsung berubah serasa indah, syahdu, aman damai tenang rasa hatiku.
Masih dalam kondisi berdiri dengan situasi yang berubah seakan alam pun menjadi saksi bahwa apa yang ku alami saat ini benar seperti mimpi, seperti sebuah misteri , suara isak tangis langsung hilang, dan masih dalam kondisi gemetar, tubuh kedinginan namun rasa tidak percaya akan apa yang terjadi masih setia menunggu disini.
Perlahan rasa kantuk menyapa mata seakan menyapa dan berbisik di telinga istirahatlah, perlahan seakan angin menggopohku terbangun dalam duduk yang berpanjangan, sempat ku lirik sekitar apa yang terjadi dengan aroma bunga se taman apakah otakku sudah hilang atau nadiku yang beberapa menit berhenti atau detak jantungku yang tiba tiba tidak berfungsi, pertanyaan itu membimbingku melangkah keluar dari musholla tapi mata masih tetap tidak berkedip memastikan apa yang terjadi malam ini adalah benar benar sebuah halusinasi tingkat tinggi.
Ku berjalan melangkahkan kaki ke kamar dengan mulut yang masih tetap memanggil namamu Ya Rasulallah .. “ Assolatu wassalamu alaika Ya Rasulallah”. Ku baringkan diri datas kasur empuk yang bagiku adalah tempat ternyaman,, tiba-tiba air mata menetes lagi yang terbayang akan dirimu yang berbaring diatas pelepah daun kurma,, aku tidak pantas di sebut ummatmu wahai kekasih Allah, aku hidup dengan serba kecukupan, memiliki keluarga, kendaraan bisa makan sepuasanya dan bisa kemana saja, sedang engkau yang tidak punya apa apa dan tidak punya siapa-siapa,, sebelum ku lanjut fikiranku air mata menetes lagi.
Lelah malam ini aku benar benar lelah berfikir akhirnya ku terlelap dalam dunia yang benar benar membuatku tidak bisa berfikir normal.
Jam 5 pagi ku terbangun dengan mata bengkak ,selesai sholat subuh ku lanjutkan baca sholawat, iyah sholawat hanya itu yang bisa kulakukan dan yang bisa kuberikan kepadamu, meski dalam hati biarlah rasa ini terpendam dalam hati. Biarkan hanya Allah yang tau betapa hati ini merindumu.
Setelah selesai dengan wiridan keluar kamar disana bertemu bibi, iseng iseng nanyak “ bi,, semalam atau beberapa hari yang lalu ada orang meninggal,” tanyaku, bibi jawab ” tidak ada “, dia balik nanya “ kenapa?” katanya.
“ Kayak ada aroma bunga semerbak semalam” ucapku lirih “ iya bibi nyium mulai hidup bibi tidak pernah nyium aroma seperti ini, jangan jangan ada malaikat turun” ucapnya “ bibi lagi duduk santai terus nyium aroma bunga harum sekali, bibi bangun liat sekitar tidak ada apa apa”. Lanjutnya.” Rupanya kamu juga nyium “ katanya , aku hanya mengangguk, kemudian ku masuk kamar lagi, masih di hantui perasaan takut dan dibuntuti pertanyaan, ada apa yah semalam ??.
(Penulis merupakan seorang ibu rumah tangga dan juga sebagai Admin Bank Sampah Rumput hias, Owner Pempek Kering, Anggota Kopermekha, pegiat literasi dan juga Penulis Buku)
Editor: Juniawati
Tim Web:
Monallisa
Uray Ega Nanda Rianti
Nanda Meilisa Fitri
- Pro Kontra Misa Katolik di Kraton Pura Mangkunegaran Surakarta - 20 Oktober 2026
- Pontianak Tangguh Warga Bersahabat - 20 Oktober 2026
- RINDU - 16 Oktober 2026






